Kesulitan Pemasaran, Petani Beralih dari Organik

  • 01-05-2018 / 22:03 WIB - Editor: febri s
  • Uploader:irawan
  • dibaca:464
Kesulitan Pemasaran, Petani Beralih dari Organik Petani Sumbrejo melakukan perawatan sayur sawi daging diareal pertanian miliknya. (Ipung Purwanto/Malang Post)

BATU - Desa Sumberjo Kecamatan Batu merupakan salah satu sentra pertanian di Kota Batu. Sayang, desa dengan mayoritas warga bermatapencarahian petani ini belum memaksimalkan organik seperti yang digagas Pemkot Batu. Begitu juga dengan lahan sekitar 500 hektar untuk pertanian, petani hanya memanfaatkan lahan itu lima persen untuk sistem organik.

 

Desa Sumberejo sebagai desa pertanian, memiliki berbagai komoditas, mulai sawi daging, seledri, bawang prei, tomat buah, cabe besar, brokoli, andewi, selada bistik, lettuce hingga brongkol. Semua produk pertanian ini tumbuh subur di desa yang memiliki ketinggian sekitar 1000 dpl tersebut.

 

Kepala Desa Sumberejo, Riyanto mengatakan jika pertanian yang dikelola oleh masyarakat desa belum sepenuhnya organik. "Mayoritas pertanian masih konvensional. Karena untuk pertanian organik, petani masih kesulitan dalam pemasaran hasil panen," ujar Riyanto kepada Malang Post.

 

Ia menjelaskan, selain kesulitan memasarkan untuk beralih ke pertanian organik harus tersertifikasi terlebih dahulu. Karena itu, beberapa persyaratan menejemen dan teknis harus terpebuhi semua. Hal itu membutuhkan waktu cukup lama. "Dulu, tahun 2012-2015, petani pernah memiliki sertifikat produk pertanian organik. Namun sekarang tidak berlanjut," bebernya.

 

Untuk sertifikasi organik hanya berjangka waktu tiga tahun. Setelahnya harus dilakukan sertifikasi kembali sehingga hanya ada beberapa orang saja yang bertahan dengan pertanian berbasis organik.

 

Sementara itu Daim, petani warga Sumberjo, Kota Batu mengakui membutuhkan banyak biaya dan waktu untuk memulai pertanian organik. Karenanya ia memilih pertanian konvensional agar uang segera bisa diputar.

 

Laki-laki paruh baya itu mengungkapkan pertanian konvensional lebih nampak hasilnya. Apalagi harus beralih ke pertanian organik, butuh penyesuaian. "Petani saat ini banyak rugi jika langsung beralih ke pertanian organik. Belum lagi bayar sewa tanah seluas 1500 meter ini," keluhnya.

 

Ia menguraikan, untuk sewa lahan itu per tahun ia jarus membayar Rp 1,5 juta. Belum lagi untuk biaya operasinal dan perawatan dalam satu kali masa tanam hingga panen mengeluarkan uang sebesar Rp 1,6 juta. "Jumlah itu untuk menanam sawi daging. Saat panen per kilogram dijualnya seharga Rp 2000. Itu harga tertinggi, kalau pasar kelebihan harga bisa Rp 700 per kilogram," bebernya.

 

Dengan tidak menentunya harga tersebut, dalam satu tahun ia harus mensiasati komoditas sayuran yang ditanam dengan seledri dan bawang prei. Meskipun harga kedua sayuran itu cukup tinggi, perawatannya oun terbilang sulit. Tidak seperti sawi daging

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA