Taklimtainment: Komodifikasi Agama di Layar Kaca

Taklimtainment: Komodifikasi Agama di Layar Kaca

Ramadan adalah bulan mulia. Bulan dimana mayoritas muslim berlomba memperbanyak ibadah. Acara-acara pengajian (majelis taklim) digelar tidak saja di masjid-masjid, tetapi juga di surau, langgar dan mushola. Stasiun televisi juga tidak mau ketinggalan. Beragam acara keagamaan di kemas dalam berbagai rupa program yang menghibur dan pemikat pemirsa. Agama telah dijadikan komoditas bagi televisi untuk bisa dijual sebagai sarana mengeruk keuntungan dari bujuk rayu iklan di acara yang ada.

Hampir semua stasiun televisi mempunyai acara yang terkait dengan Ramadan ini. Ada yang berupa lomba ceramah agama, kompetisi da’i cilik, lomba menyanyi lagu-lagu Islami, juga pengajian majelis taklim yang dikemas di studio dan di luar ruang yang menghadirkan ustad-ustad kondang. Tidak ketinggalan dalam setiap acara juga bertabur kuis yang hadiahnya jutaan rupiah.

Beragam iklan berupa aneka produk berjubel antri menunggu giliran tayang, menyela acara yang sedang tersaji. Aneka merk sarung, baju koko, minuman, makanan, obat penjaga stamina, dan beragam produk yang terkait dengan puasa dan lebaran memenuhi slot iklan layar kaca. Saat jelang Maghrib dan waktu seputar makan sahur menjadi jam pertunjukkan padat penonton (prime time) di hampir semua stasiun televisi.

 

Logika Televisi

Acara televisi selama Ramadan dari tahun ke tahun hampir serupa. Acara selalu berulang dengan kemasan yang sama. Tidak jarang acara di kemas dengan isi yang jauh dari nilai-nilai Ramadan. Televisi seperti sekedar memanfaatkan momentum Ramadan ini untuk mendulang banyak iklan produk yang bersedia membayar pada pengelola televisi.  Ya, inilah logika televisi, karena dia adalah entitas bisnis, maka logika yang dipakai adalah bagaimana mendapat keuntungan sebanyak banyaknya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan logika yang dimainkan televisi ini. Karena televisi (terutama televisi swata) adalah sebuah industri padat modal yang butuh biaya besar dalam operasionalnya. Iklan adalah sumber pendapatan utama stasiun televisi. Maka logika mendapatkan iklan sebanyak mungkin dari setiap acara yang dibuat menjadi sebuah harga mati bagi pengelola televisi.

Perilaku televisi saat Ramadan ini sah-sah saja sebagai lembaga profit. Namun hendaknya tidak ada yang jadi korban dalam praktik ini. Masyarakat luas, para penonton televisi idealnya menjadi perhatian utama. Televisi tidak bijak kalau hanya merayu dan memberi iming-iming penonton agar menonton acara, namun kemanfaatan dari acara itu justru berdampak buruk bagi pemirsa.

Logika yang idealnya dibangun oleh

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA