Literasi untuk Membangun Budaya Politik Beretika

Literasi untuk Membangun Budaya Politik Beretika

Menjelang Pilkada serentak tahun 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni mendatang menjadi momentum bagi rakyat Indonesia menentukan siapa yang akan dijadikan pemimpin untuk lima tahun ke depan. Bicara soal kepemimpinan, sudah jelas semua rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas dan menjadi panutan bagi rakyat yang dipimpin.

Ini merupakan sesuatu yang lumrah, apalagi di tengah merosotnya kepercayaan publik akibat ulah beberapa pemimpin yang tersandung kasus korupsi. Sehingga memilih pemimpin yang ideal salah satu caranya adalah dengan melihat track record baik sebagai rakyat biasa maupun yang pernah menjadi pejabat publik.

Ini penting agar rakyat tidak menjadi bulan-bulanan para pemimpin yang tidak mampu menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik sekaligus menjadi jembatan bagi rakyat menuju situasi hidup yang sejahterah dan mandiri secara sosial-ekonomi. Tanpa track record yang baik, maka sebaiknya tidak dipilih sebagai pemimpin berapapun uang yang telah dikeluarkan dan semanis apapun janji yang diucapkan.

Tanpa track record yang mumpuni sebagai pemimpin, maka potensi untuk menciderai pemerintahan di Indonesia akan semakin besar terjadi. Rakyat sebagai peserta pilkada tentu harus dibekali dengan kemampuan agar mampu memilih siapa yang tepat untuk dijadikan pemimpin.  Caranya adalah dengan memberikan pendidikan politik, atau dalam istilah lain penulis sebutkan sebagai literasi politik.

Biasanya, literasi politik ini hanya ada di ruang-ruang formal seperti universitas dan seminar-seminar politik yang diadakan oleh organisasi kepemudaan. Literasi politik ialah gerakan melek politik untuk mengantisipasi praktek-praktek politik yang bersifat negatif dan juga sebagai langkah kita cerdas dalam berpolitik, tentu bukan yang berorientasi pada kekuasaan, melainkan upaya sebagai cara untuk mengembalikan politik kepada nilai-nilai positif.

Literasi politik merupakan upaya yang harus diejawantahkan sebagai jalan agar rakyat, khususnya yang memiliki keterbatasan akses informasi, agar tidak buta dengan dunia politik, termasuk dengan orang-orang yang berkiprah di dalamnya. Apalagi momentum kampanye yang terbilang menjadi potensi besar penyimpangan sehingga pencegahan dengan literasi politik bisa ditempuh.

Karena dengan gerakan literasi akan menghantarkan masyarakat untuk secara mandiri bisa mengantisipasi berbagai pentimpangan yang terjadi. Ada dua tujuan utama mengapa literasi politik penting bagi rakyat. Pertama, untuk memberikan wawasan politik kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan berita-berita hoax (counter negative politics) yang banyak beredar di media sosial.

Kedua, untuk menumbuhkan kesadaran politik masyarakat agar berperan aktif dalam

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA