Mahasiswa Peringati Hari Buruh, Jadinya Ricuh

  • 01-05-2018 / 23:42 WIB - Editor: Dewi Yuhana
  • Uploader:slatem
  • dibaca:582
Mahasiswa Peringati Hari Buruh, Jadinya Ricuh Salah satu pendemo dari mahasiswa diamankan petugas, sebelumnya ia diduga mengolok petugas dengan kata-kata kotor di depan Balai Kota Malang. Sementara massa Front Perjuangan Buruh Indonesia justru menggelar aksi secara damai sekitar pukul 10.00, kemarin. (IRA RAVIKA/MALANG POST)

tak diterima oleh peserta aksi yang lain. Mereka mendorong petugas, untuk melindungi si wanita yang belakangan diketahui bernama Sahara. 
Dorongan inilah yang membuat suasana semakin panas. Petugas yang semula berjaga damai, pun kemudian memaksa peserta aksi untuk bubar. Mereka dipaksa menghentikan kegiatan aksi dan pulang.
Dan saat itu terjadi, salah satu mahasiswa juga kembali mengolok petugas dengan kata-kata kotor. Dia pun langsung berlari setelah mengolok. Tentu saja, petugas tidak terima, dan kemudian melakukan pengejaran terhadap mahasiswa tersebut.
Hasilnya, mahasiswa itu dapat diamankan tepat di depan Hotel Tugu. Petugas yang tidak yakin dia mahasiswa langsung meminta identitas serta Kartu Tanda Mahasiswa. Tak lama kemudian, mahasiswa itu diamankan untuk dimintai keterangan.
”Ada miskomunikasi tadi. Makanya sempat dilakukan pengejaran. Tapi bersyukur, semuanya dapat diselesaikan dengan kepala dingin,’’ tambah Bambang. 
Dia juga sempat mengajak perwakilan peserta aksi untuk dialog. Dan upaya itu membuahkan hasil, dimana peserta aksi kemudian membubarkan diri.
”Aksi kami ini dalam rangka untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Kami datang ke sini dengan damai, untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan,’’ kata Jumadin Lagara Ibrahim koordinator aksi. 
Dia mengaku sangat menyesalkan tindakan aparat keamanan yang telah melakukan kekerasan, terlebih hingga melakukan pemukulan. ”Apa salahnya kami masuk Gedung Balai Kota Malang. Harusnya aparat keamanan mengawal kami, bukan malah melarang,’’ katanya.
Jumadin juga menegaskan, jika ketakutan aparat keamanan terjadi pengerusakan, alasan itu tak dapat diterima. Ya, karena mereka ingin masuk hanya untuk melihat-lihat, gedung yang dibangun menggunakan anggaran dari rakyat, bukan untuk merusak. 
Oleh karena itu, Jumadin dan peserta aksi lainnya pun mengaku tak terima. Mereka pun berencana akan kembali turun ke jalan dengan membawa masa lebih besar. ”Kami sudah melapor ke cabang terkait peristiwa hari ini. Dan kami akan kembali melakukan aksi dengan jumlah massa yang lebih banyak,’’ urainya.
Seiring dengan tuntutan aksi yang kemarin  diteriakkan, Jumadin mengaku ada tujuh point tuntutan. Yaitu stop PHK sepihak, tolak tenaga kerja asing, maksimalkan pengawasan imigrasi, tolak upah murah, cabut PP no 78 tahun 2015, menuntut hak-hak buruh, mengutuk presiden karena gagal menciptakan suasana kerja sehat.

Padahal, di tempat yang sama, juga sempat ada aksi dari buruh betulan. Namun tidak ricuh. Yakni aksi dari tiga kelompok buruh se Malang Raya. Mulai pukul 10 pagi sampai 13.00. Diawali dengan long march, berasal dari Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) Malang dan Serikat Buruh Indonesia (SBI) Malang.
Lokasi aksi Mayday ini pun terpusat di tiga kawasan tengah Kota Malang. Di antaranya kawasan Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Alun-Alun Tugu Kota Malang dan Simpang Balapan. Meski begitu, kawasan Balai Kota Malang menjadi lokasi sentral ketiganya.
Salah satu kelompok massa, Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) yang membawa sekitar 700 massa bergerak dari Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Melakukan Long March ke Balai Kota Malang dengan mengajukan 10 tuntutan dengan point pertama menolak Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA).
“Tuntutan kita ada 10 poin, yang pertama menolak Peraturan Presiden tentang Tenaga Kerja Asing (TKA),” tegas Lutfie Hafid, Ketua FPBI Malang Raya saat ditemui ditengah aksi yang dilakukan di depan Balai Kota Malang.
Tidak hanya FPBI, tidak jauh dari lokasi aksi FPBI terdapat aksi yang dilakukan Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) Malang. Ratusan massa yang datang berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang. 
Tuntutan yang dibawa pun tidak jauh berbeda. Mereka menyuarakan nasib-nasib buruh yang masih dibayar tidak manusiawi. Serta menuntut pengapusan sistem outsourcing yang dianggap sama halnya dengan konsep perbudakan zaman penjajahan dulu.  
Ribuan massa yang tergabung dalam di antaranya Serikat Buruh Indonesia (SBI) Malang dan Kesatuan Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga melakukan aksi longmarch berjalan kaki di depan kawasan DPRD Kota Malang Bundaran Tugu.
Massa lain yang menggelar aksi di tempat yang sama dari Aliansi Rakyat Malang Bersatu. Tidak ketinggalan massa juga menyorot isu pekerja asing.
“Kedatangan pekerja asing ke Indonesia akan mengakibatkan banyak buruh di-PHK, apalagi tenaga kerja lokal minta gaji naik,” kata Agus Muin, koordinator aksi.
Keberadaan tenaga asing semakin menekan posisi buruh. Buruh lokal akan semakin terpinggirkan dan terkorbankan. Muin menegaskan bahwa pemerintah belum membuat kebijakan yang pro terhadap buruh. Pemerintah justru memihak kepada para pengusaha.
Sementara itu, peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Malang berlangsung kondusif, kemarin. Tidak ada aksi buruh turun ke jalan untuk melakukan demo seperti di daerah lain. Namun, sejumlah organisasi buruh di

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA