Mahasiswa Peringati Hari Buruh, Jadinya Ricuh

  • 01-05-2018 / 23:42 WIB - Editor: Dewi Yuhana
  • Uploader:slatem
Mahasiswa Peringati Hari Buruh, Jadinya Ricuh Salah satu pendemo dari mahasiswa diamankan petugas, sebelumnya ia diduga mengolok petugas dengan kata-kata kotor di depan Balai Kota Malang. Sementara massa Front Perjuangan Buruh Indonesia justru menggelar aksi secara damai sekitar pukul 10.00, kemarin. (IRA RAVIKA/MALANG POST)

Malang Raya. Mulai pukul 10 pagi sampai 13.00. Diawali dengan long march, berasal dari Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) Malang dan Serikat Buruh Indonesia (SBI) Malang.
Lokasi aksi Mayday ini pun terpusat di tiga kawasan tengah Kota Malang. Di antaranya kawasan Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Alun-Alun Tugu Kota Malang dan Simpang Balapan. Meski begitu, kawasan Balai Kota Malang menjadi lokasi sentral ketiganya.
Salah satu kelompok massa, Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) yang membawa sekitar 700 massa bergerak dari Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Melakukan Long March ke Balai Kota Malang dengan mengajukan 10 tuntutan dengan point pertama menolak Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA).
“Tuntutan kita ada 10 poin, yang pertama menolak Peraturan Presiden tentang Tenaga Kerja Asing (TKA),” tegas Lutfie Hafid, Ketua FPBI Malang Raya saat ditemui ditengah aksi yang dilakukan di depan Balai Kota Malang.
Tidak hanya FPBI, tidak jauh dari lokasi aksi FPBI terdapat aksi yang dilakukan Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) Malang. Ratusan massa yang datang berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang. 
Tuntutan yang dibawa pun tidak jauh berbeda. Mereka menyuarakan nasib-nasib buruh yang masih dibayar tidak manusiawi. Serta menuntut pengapusan sistem outsourcing yang dianggap sama halnya dengan konsep perbudakan zaman penjajahan dulu.  
Ribuan massa yang tergabung dalam di antaranya Serikat Buruh Indonesia (SBI) Malang dan Kesatuan Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga melakukan aksi longmarch berjalan kaki di depan kawasan DPRD Kota Malang Bundaran Tugu.
Massa lain yang menggelar aksi di tempat yang sama dari Aliansi Rakyat Malang Bersatu. Tidak ketinggalan massa juga menyorot isu pekerja asing.
“Kedatangan pekerja asing ke Indonesia akan mengakibatkan banyak buruh di-PHK, apalagi tenaga kerja lokal minta gaji naik,” kata Agus Muin, koordinator aksi.
Keberadaan tenaga asing semakin menekan posisi buruh. Buruh lokal akan semakin terpinggirkan dan terkorbankan. Muin menegaskan bahwa pemerintah belum membuat kebijakan yang pro terhadap buruh. Pemerintah justru memihak kepada para pengusaha.
Sementara itu, peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Malang berlangsung kondusif, kemarin. Tidak ada aksi buruh turun ke jalan untuk melakukan demo seperti di daerah lain. Namun, sejumlah organisasi buruh di Kabupaten Malang berencana menggelar aksi positif dalam memperingati Hari Buruh Internasional tersebut.
Salah satu organisasi yang bakal menggelar aksi positif dalam memperingat Hari Buruh Internasional tersebut yakni Gerakan Massa Buruh (Gemuruh) NasDem Kabupaten Malang. Sayap organisasi partai NasDem ini berencana menggelar kegiatan sarasehan serta diskusi yang bakal diselenggarakan pada akhir pekan ini.
“Dalam memperingati Hati Buruh Internasional, tidak selalu turun ke jalan dengan melakukan aksi demo atau protes. Melainkan bisa menggelar kegiatan bermanfaat seperti diskusi maupun sarasehan yang rencananya akan kami gelar Sabtu akhir pekan ini,” ujar Ketua Gemuruh NasDem Kabupaten Malang, Budi Wiryawan kepada Malang Post.(ira/ica/big/ary)
 

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA