Media Menata Ummat

  • 02-05-2018 / 23:27 WIB - Editor: rosida
  • Uploader:angga
Media Menata Ummat ilustrasi

dikemukakan oleh McLuhan sangat mengena terutama jika kita memikirkan mengenai praktik media saat ini sebagai sebuah industri, maupun sebagai sebuah sektor dalam masyarakat. Saat perkembangan media telah mengubah masyarakat kita secara luar biasa menjadi sebuah masyarat yang begitu “haus-informasi” (Castells, 2010), akumulasi laba cenderung selalu menjadi tujuan utama dari media saat ini; daripada menyajikan “konten yang memberadabkan”. Apa yang dirujuk sebagai “konten yang memberadabkan” adalah sekumpulan materi untuk membantu pendewasaan publik dan sarana refleksi mendalam mengenai keprihatinan dan wacana publik.

Sebagai contoh, kasus di  sosial media yang menggemparkan  mengenai produk masakan kalengan yang direkam salah satu seorang warga yang mendapati produk tersebut terdapat cacing ketika dikonsumsi. Warga tersebut terkejut mengutarakan kejadian atau pengalaman itu lewat media sosialnya.  Tentu saja membuat perusahaan produk tersebut pada saat itu mengalami kerugian yang sangat mendalam dikarenakan isu dari seorang individu, yang menyebabkan terjadinya PHK atau pengurangan jumlah karyawan di perusahaan tersebut dikarenakan isu tersebut. Dengan demikian isu sekecil apapun dari media dapat menyebabkan dampak yang besar yang bisa membuat kehidupan sosial semakin keruh apabila tidak bisa membendung isu  yang awalnya hanya bersumber dari seorang individu.

Menimbang beberapa kasus, secara terus menerus terlihat bahwa media berperan dalam membentuk dan mereka ulang bagaimana individu, masyarakat dan kebudayaan mempelajari, merasakan, dan memahami dunia. Dengan bantuan teknologi, media mampu memperkuat informasi pada satu titik tunggal ke khalayak ramai, dalam waktu tertentu. Media begitu kuat sampai mampu memaksakan “bias, asumsi, dan nilai-nilai” (McLuhan, 1964). Demikian, media memainkan peran sentral dalam perkembangan masyarakat dan, sebagai konsekuensi, menjadi arena kontestasi. Mereka yang berkuasa atas media akan mendapat banyak keuntungan, sementara mereka yang dilemahkan akan selalu tidak mampu bersuara karena tidak memiliki daya.

Demokrasi berawal dari warga. Sebuah masyarakat demokratis sejati bergantung pada khalayak sadar informasi yang membuat pilihan-pilihan politis. Maka, informasi dan komunikasi merupakan hal integral bagi demokrasi. Lagipula, demokratisasi komunikasi merupakan prasyarat demokrasi. Namun, menyadari bahwa mendapati media independen yang secara penuh bebas dari kepentingan kelompok, ekonomi, maupun politik adalah hampir mustahil, maka sesungguhnya hak warga terhadap informasi dan juga kebebasan berekspresi dalam kondisi terancam. Kelompok minoritas dan rentan bahkan semakin sulit untuk menyalurkan suara mereka di ranah publik. Kondisi ini terjadi karena mereka memiliki daya tawar sangat terbatas dalam media.

 Isu-isu mengenai hak warga terhadap media, terutama partisipasi warga dalam pembuatan kebijakan atau dalam pembuatan-berita itu sendiri, telah lama didiskusikan baik di tingkat lokal maupun global. Hal ini terjadi karena warga di seluruh dunia lambat laun mulai menyadari gagasan bahwa mereka memiliki hak/bagian di media, walaupun mereka tidak selalu diakui sebagai pemangku kepentingan oleh pihak pemegang kekuasaan, baik oleh pemerintah maupun organisasi media. Kesadaran baru ini didasarkan pada pemahaman bahwa, dalam dunia sekarang ini, peran media massa semakin lama semakin besar. (*)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA