Walikota Naik Tangga Damkar Setinggi 24 Meter

  • 26-04-2018 / 23:08 WIB - Editor: febri s
  • Uploader:slatem
  • dibaca:421
Walikota Naik Tangga Damkar Setinggi 24 Meter Wali Kota Batu Dra. Dewanti Rumpoko M.Si bersama beberapa anggota BPBD Kota Batu melakukan simulasi bencana di Balai Among Tani. Walikota ikut menaiki tangga Damkar di ketinggian 24 meter. (IPUNG PURWANTO/MALANG POST)

BATU – Wilayah geografis Kota Batu yang berada di pebukitan, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memprioritaskan tindakan preventif dalam menanggulangi bencana alam yang kerap terjadi, mulai dari bencana longsor sampai gempa bumi.

Tiga bulan terkahir, telah terjadi gempa sebanyak dua kali. Pertama pada 23 Februari dengan kekuatan 2 SR di Desa Bulukerto. Kedua pada 4 April di Coban Rondo. Meski gempa yang terjadi dalam skala ringan, tapi hal itu perlu diantisipasi. Kota Batu berada diantara lempeng Sesar Kendeng. Ini memgakibatkan gempa di Kota Batu pada awal tahun ini.
Hal inilah yang menjadi bahan simulasi penanganan bencana yang digelar BPBD Kota Batu di Lapangan Parkir Timur Balai Kota Among Tani, Kamis (26/4) kemarin.
“Setiap tahunnya tantangan penanggulangan bencana akan terus meningkat. Karenanya setiap SKPD  dapat mengalokasikan anggaran untuk pelatihan kesiapsiagaan mandiri paling tidak satu kali setahun,” kata Wali Kota Batu Hj. Dewanti Rumpoko dalam apel Kesiapsiagaan penanggulangan bencana.
Dalam simulasi itu,  akibat gempa bumi yang menimbulkan kekacuan seperti korsleting listrik, kebakaran dan evakuasi terhadap korban dipertunjukkan di Balai Among Tani. Bahkan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko M.Si ikut dalam simulasi tersebut dengan naik mobil damkar di ketinggian 24 meter.
Pada ketinggian tersebut, Bude sapaan akrab Dewanti Rumpoko, melihat dan mempraktikan bagaimana  kondisi Balai Kota Among Tani pasca bencana gempa terjadi. Tak hanya itu, simulasi pemadaman api akibat kebakaran yang ditimbulkan dan evakuasi korban bencana juga diikutinya.
Kepala BPBD Kota Batu, Sasmito mengatakan jika peringatan untuk pertama kalinya, selain simulasi, bertujuan untuk merubah paradigma masyarakat. “Kami ingin, dengan adanya peringatan ini cara pandang masyarakat yang awalnya responsif dan reaktif, menjadi tindakan preventif,” ujar Sasmito.
Ia menjelaskan, kondisi wilayah Kota Batu perbukitan menyebabkan seringnya bencana seperti longsor, banjir bandang dan puting beliung. Sehingga diungkapnya perlu adanya edukasi dan kerjasama dengan relawan tiap desa kelurahan, dinas terkait dan lembaga usaha yang ada di Kota Batu.
Karena, lanjut Siswanto, langkah tersebut merupakan pembinaan agar masyarakat tanggap terhadap bencana yang sewaktu-waktu datang. Terutama bagi lima daerah yang sering terjadi bencana seperti Kelurahan Sisir, Desa Gunungsari, Desa Tulungrejo, Desa Junrejo dan Desa Pandanrejo. “Lima desa rawan bencana tersebut telah menjadi desa kelurahan tangguh bencana,”

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA