Zonasi Mengakhiri Kastanisasi Pendidikan

  • 09-07-2018 / 16:09 WIB - Editor: rosida
Zonasi Mengakhiri Kastanisasi Pendidikan

BEBERAPA tahun lalu, dalam beberapa kali diskusi akademik, salah seorang guru besar bidang pendidikan dan genetika di sebuah PTN di Malang dengan tegas mengatakan bahwa sistem pendidikan (khususnya terkait dengan kebijakan sekolah) telah jauh melenceng dari relnya. Adanya dikotomi sekolah, antara sekolah favorit dan tidak, telah menjadi fakta bahwa arogansi dan ketidakadilan telah berkembang begitu pesat di Indonesia.

Bagaimana mungkin bangsa ini membiarkan keadaan dimana satu sekolah dengan egois hanya menerima siswa cerdas (dan mungkin juga dengan dana kuat) dengan nilai rerata minimal delapan koma, sementara sekolah lain menerima siswa dengan nilai tertinggi tujuh koma? Anak-anak pandai dan kaya kumpul di sekolah favorit, anak-anak kurang mampu dan kemampuan akademik biasa-biasa saja kumpul di sekolah pinggiran/non-favorit. 

Kini, beberapa tahun kemudian setelah pernyataan guru besar itu, kebijakan benar-benar muncul. Sistem zonasi mulai diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Sebagaimana pernyataan dalam release Kemdikbud. Kebijakan ini membawa misi yang sangat mulia. Sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah bertujuan untuk pemerataan hak memperoleh pendidikan bagi anak-anak usia sekolah (Warta Ekonomi/13/07/2018). Kebijkan ini adalah upaya menjamin layanan akses bagi siswa, mendekatkan lingkungan sekolah dengan lingkungan keluarga, menghilangkan diskriminasi di sekolah (khususnya sekolah-sekolah negeri), upaya meningkatkan prasarana sekolah ataupun peningkatan tenaga pendidikan, dan mendorong peran serta masyarakat dalam peran serta kualitas pendidikan.

 

Mengakhiri Dikotomi

Dikotomi sekolah favorit dan non favorit sejatinya telah belangsung  dan berkembang sejak lama, bahkan dapat dengan tegas disampaikan bahwa pembedaan ini merupakan  “warisan kolonial Belanda”. Menurut Purbajati (2017) teori pendidikan yang kita pelajari selama ini tidak pernah mengenal sistem pengelompokan siswa atau sekolah berdasarkan kapasitas otak (kecerdasan) semata. Pola ini jelas telah melanggar kodrat dan anugerah dari Tuhan. Bukankah masing-masing  memiliki bakat atau kecerdasan alamiah yang merupakan bagian dari karunia Tuhan?

Langkah “kapitalisasi” sekolah dengan menambah label favorit, program plus, esktensi, kurikulum luar negeri, menjadi tren yang kita temukan. Sekolah (sejatinya pihak-pihak dengan kepentingan pribadi dan sesaat), menikmati label “sekolah favorit”. Bukankah dengan menerima siswa berkemampuan tinggi sekolah-sekolah relatif tidak perlu bekerja keras mendidik dan mengajar? Maka yang muncul adalah adanya kastanisasi pendidikan. Sekolah-sekolah berlabel favorit itu adalah pemilik kasta tertinggi. Maka berikutnya, guru-guru dan siswa di sekolah tersebut otomatis menjadi bagian

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA