Terlalu...

  • 26-04-2018 / 23:31 WIB - Editor: buari
  • Uploader:slatem
Terlalu... foto: guest gesang/mp

tidak ada masalah.  Sayang, Minggu malam tidak ada kemenangan untuk Singo Edan. Terlalu. Persiapan demi persiapan, baik teknis maupun non teknis, seolah jadi percuma. Arema kini sebagai satu-satunya tim peserta Liga 1 yang belum merasakan kemenangan.

Tim asuhan Joko Susilo ini pun semakin terpuruk di posisi 18 dasar klasemen sementara Liga 2018. Bahkan berpotensi hasil buruk ini terus berlanjut hingga beberapa laga kedepan. Melihat jadwal Arema berikutnya kembali menghadapi tim-tim besar. Sabtu (21/4), away ke kandang Madura United, Jumat (27/4) menerima tim Persipura di Kanjuruhan.

Berikutnya 6 Mei, away menghadapi Persebaya Surabaya, disusul laga home lawan PSM Makassar dan away lawan Bali United. Tak terbayangkan, bagaimana hasil perjalanan tim Arema yang kini baru mengemas dua poin ini. Bayang-bayang degradasi, rasanya bukan hanya isapan jempol belaka. Jika trend negatif berlanjut, jelas tak akan ada tambahan poin.

Pantaslah jika Aremania meluapkan kekecewaannya. Lawan Persib yang harusnya bisa jadi titik balik, gagal terwujud. Justru saat berlaga di depan mata kepala mereka. Apalagi lawan yang dihadapi adalah Persib. Ya, ini Persib Bandung yang selalu menghadirkan atmosfir persaingan klasik. Seperti halnya jika Arema bertemu dengan Persebaya.

Tidak hanya urusan tim, namun juga dalam persaingan suporter. Terus terang, saya tak bisa membayangkan betapa malunya Aremania, ‘dikalahkan’ Persib di kandang singa. Memang sungguh terlalu. Bahkan Aremania telah mempertaruhkan nama besar mereka, dengan hasil buruk tim Arema ini. Ya, Aremania yang pernah dikenal sebagai the best supprter, kini juga pada titik nol.

Tak sampai membahas soal kericuhan yang terjadi hingga membuat laga dihentikan, saat terjadi lempar-lempar itu saja Aremania sudah dinilai mencederai sportifitas.  Gerakan medsos yang menyudutkan Aremania sudah ramai. Bahkan nada ancaman atau balasan dari suporter Persib saat Arema bertandang pada putaran kedua, juga telah disampaikan di medsos.
Aksi positif yang ditunjukkan Aremania, sejak sebelum laga dimulai hingga sepanjang 2x45 seolah langsung sirna. Padahal saya sempat dibuat kagum dengan koreografi, tulisan tentang dedikasi untuk pendiri, lengkap dengan gambar Sam Ikul dan Ebes Acub Zaenal.  Nyanyian Aremania tak henti sepanjang pertandingan pun bikin saya merinding. Sayang, semua itu hilang.

 Saya yakin, Aremania sejatinya tidak untuk menyerang tim Persib atau berbuat ricuh di kandangnya sendiri. Apalagi yang jatuh korban dari peristiwa di Kanjuruhan ini adalah Aremania sendiri, khususnya Aremanita. Lalu pertanyaan adalah, siapakah yang bertanggung jawab atas semua ini? Atas hasil buruk Arema yang menurut saya jadi pemicu utama kericuhan.
Jawaban saya adalah manajemen tim Arema. Ya, menurut saya, dan mungkin menurut mayoritas Aremania, yang harus bertanggung jawab adalah manajemen. Tim pelatih maupun pemain, sudah tak bisa berbuat banyak. Maka manajemen sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Arema dan Aremania. Siapa?

Mohon maaf, tanpa ikut terbawa emosi dan tanpa bermaksud menyudutkan, menurut saya ada General Manager Arema, Ruddy Widodo. Saya kenal baik dengan Mas Ruddy, dan saya tidak ada masalah dengan beliau. Namun sejak Mas Ruddy menggantikan posisi Mas Iwan Budianto, rasanya ada yang kurang di manajemen tim Arema. Mungkin ini yang perlu dicarikan solusi.

Terlepas posisi Mas Iwan mungkin masih berkomunikasi dengan Mas Ruddy, namun seperti tidak ikut dalam bagian manajemen Arema. Lalu, bagaimana sebenarnya manajemen tim Arema yang hingga saat ini hasilnya tak kunjung membaik? Jawabannya hanya tangis. Ya,  itu jawaban yang diberikan Mas Iwan saat saya konfirmasi melalui whatsapp, tadi malam. Mas Iwan memberi jawaban dengan sebuah emoticon wajah menangis. Mungkin mewakili ribuan Aremania yang tadi malam menangis. (*)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA