Layar Lebar (untuk) Aremania

  • 15-07-2018 / 16:20 WIB - Editor: rosida
  • Uploader:irawan
Layar Lebar (untuk) Aremania

SALAM Satu Jiwa! AREMA! Rasanya sudah menjadi hal yang semestinya sebagai orang yang mengaku berasal dari Malang, akan menjadi seorang Aremania. Fanatisme itu pun juga ditunjukkan pada atribut-atribut suporter yang menyebut Arema, bahkan sebagai agama kedua. Jika diruntut secara historis, lahirnya klub sepakbola Arema memanglah sebagai simbol pemersatu arek-arek Malang. Klub dan juga pendukung patut berbangga atas identitas AREMA-AREMANIA yang begitu lekat di hati dan jiwa penduduk Malang Raya. Tidak hanya di Malang saja identitas itu begitu dibanggakan, namun juga ketika berada jauh dari Malang identitas itu masih menggelora.

Rasa bangga itulah yang rupanya mewujud dalam salah satu fragmen cerita dalam film Darah Biru Arema 2 (DBA 2). Aremania dalam film tersebut seolah menjadi obat sepi di tengah sulitnya hidup di perantauan, bahkan di pedalaman Kalimantan sekalipun. DBA 2 seakan menjadi pendobrak cara berpikir generasi kreatif di Malang Raya yang selama ini menunggu proyek-proyek film datang ke Malang.

Tidak ada salahnya, dan bahkan sudah semestinya, karena Malang Raya punya segudang pelaku kreatif untuk menghasilkan sebuah karya yang fenomenal. DBA 2 harus diapresiasi karena bermula dari inisiatif kekaryaan mandiri pelaku kreatif di Malang Raya. Sudah barang tentu pemutaran film DBA 2 pun dibarengi dengan antusiasme yang tinggi oleh publik Malang Raya.

Antusiasme terhadap DBA 2 di minggu akhir Juni 2018 itu juga saya rasakan ketika ikut mengantre untuk membeli tiket film. Tidak jarang panitia harus menolak calon penonton karena tiket sudah terjual habis. Tentu agak disayangkan jadwal pemutaran DBA 2 tidak berlangsung lama di bioskop-bioskop di Kota Malang. Mungkin ada pertimbangan biaya produksi serta distribusi dari pembuat film yang tidak diketahui oleh publik.

Pilihan pembuat film DBA 2 yang memilih sudut pandang olahraga sepakbola dan pendukungnya sesungguhnya sudah menjadi ruang potensial, baik secara kreatifitas maupun bisnis. Garry Crawford dalam bukunya “Consuming Sports; Fans, Sport and Culture juga menyebutkan bahwa fanatisme dalam sepakbola merupakan salah satu aliran dalam dunia hiburan yang sangat populer, yang memberikan kesempatan setiap orang untuk mengalaminya langsung.

Kepopuleran aliran film dengan tema-tema olahraga dan pendukungnya ini tidak banyak dilirik di Indonesia. Hanya bisa dihitung beberapa saja film-film Indonesia yang mengangkat tema tersebut, tentu situasi itu sudah semestinya menjadi peluang besar untuk dikembangkan.

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA