Dalil Tawasul dengan Orang Shalih yang Masih Hidup

  • 10-05-2018 / 23:34 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:irawan
Dalil Tawasul dengan Orang Shalih yang Masih Hidup ist

Saat ini masih sering berseliweran di tengah-tengah kita tuduhan “bid’ah aqidah”, yang dialamatkan kepada sejumlah amaliyah umat Islam, karena dianggap sebagai praktik di luar ajaran Rasulullah dan mengadung kesyirikan. Padahal sebenarnya hal itu merupakan amaliah fiqih (bukan aqidah) yang cukup dilandasi dengan dalil-dalil yang bersifat dhanni sebagaimana permasalahan fiqih lainnya.

Salah satu amaliyah yang sering dipersepsikan sebagai bid’ah aqidah adalah tawasul. Dalam literatur Ahlussunnah wal Jamaah, ada lima jenis tawasul, yaitu tawasul dengan amal shalih, tawasul dengan orang shalih yang hidup, tawasul dengan orang yang telah meninggal, tawasul dengan yang belum wujud, dan tawasul dengan benda mati.

Pada kesempatan ini fokus mengupas tawasul kepada orang shalih yang masih hidup. Tawasul adalah aktivitas mengambil sarana/wasilah agar doa atau ibadahnya dapat diterima dan dikabulkan. Al-wasîlah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu, bentuk jamaknya adalah wasâil (Ibnul Atsir, An-Nihayah fil Gharibil Hadîts wal Atsar, 1421 H, Arab Saudi, Daru Ibnul Jauzi, halaman 185).

Sedangkan menurut istilah syari’at, al-wasîlah yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa amal ketaatan yang disyari’atkan (Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, 1992, Beirut, Dar al Kutub al-Ilmiyyah, halaman 567 dan Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 2012, Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, halaman 103). 

Dengan kata lain, tawasul dalam tinjauan bahasa (terminologi) bermakna mendekatkan diri. Sementara menurut istilah (etimologi) bermakna pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dengan wasilah (media/perantara), baik berupa amal shalih, nama dan sifat, ataupun zat dan jah (derajat) orang shalih, misalnya para nabi, para wali, para ulama, dan sebagainya (Wazarah Al-Auqof, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 1983, Kuwait, Wazarah Al-Auqof, halaman 149-150 dan Yususf Khattar Muhammad, al-Mausu’ah al-Yusufiyah, 1999, Damaskus: Nadr, halaman 81).

Sebagian orang mempermasalahkan, salah satunya, jenis tawasul dengan menyebut orang-orang shalih (shalihin) atau keistimewaan mereka di sisi Allah. Padahal, mayoritas ulama mengakui keabsahannya secara mutlak, baik saat para shalihin masih hidup maupun sudah wafat. Adapun dalil yang memperkuat tawasul adalah sebagai berikut:

 

1. Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Al-Maidah ayat 35:

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah carilah perantara mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian bahagia.” (QS. Al-maidah: 35)

Kata . Al-wasîlah (perantara) dalam ayat di atas jika

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA