Korupsi, Episode Yang Tak Ada Habisnya

  • 22-07-2018 / 16:11 WIB - Editor: rosida
  • Uploader:irawan
Korupsi, Episode Yang Tak Ada Habisnya

kata Irvanto di persidangan (kaltim.tribunnews.com/ 22 Mei 2018)

Bahkan,berbagai drama panjang pun terjadi, mulai dari mangkirnya ketika dipanggil oleh KPK hingga mobil yang menabrak tiang listrik dan menyebabkan Setya Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Setya Novanto yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI dan Ketua Umum Partai Golkar kemudian dituntut hukuman 16 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan oleh jaksa penuntut umum (m.liputan6.com/24 April 2018).

Selain itu, sebagaimana dilansir dalam bbc.com pada tanggal 29 Maret 2018 jaksa juga menuntut hukuman tambahan berupa uang pengganti US$ 7,3 juta yang dikurangi oleh uang yang sudah dikembalikan terdakwa sebesar Rp 5 miliar. Tidak hanya melibatkan kalangan elite politik di wilayah pusat. Penyakit ‘korupsi’ juga menjangkiti tataran pejabat kabupaten/kota. OTT atau Operasi Tangkap Tangan para Bupati/Wali Kota telah banyak terjadi.

Dan Wali Kota Malang juga telah menjadi salah satu tersangka dalam kasus suap pembahasan APBD-P Pemkot Malang Tahun Anggaran 2015. Selain itu, yang terbaru KPK juga memeriksa tujuh Anggota DPRD Malang sebagai saksi dalam perkara kasus tersebut (m.tribunnews.com/18 Juli 2018). Persoalan korupsi ini bukan persoalan yang main-main.

Kita tentu tidak menginginkan Indonesia yang pada saat ini masuk dalam peringkat 14 dari daftar negara paling korup di wilayah Asia Pasifik yang dilansir Transparency.org, Jum’at (23/2/2018). Jika kita analisis, terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan sebagai upaya pemberatasan korupsi di negeri ini. Yakni individu, masyarakat dan negara.

Ketiganya menjadi aspek mendasar jika kita ingin menyelesaikan suatu problem besar yang terjadi, seperti masalah korupsi ini. individu yang saat ini terus diwarnai dengan tinta  sistem kapitalisme akhirnya melahirkan seorang yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan menjadikan materi, uang dan kekuasaan sebagai tujuan utama dan cita-cita yang harus diraihnya.

Sistem kapitalisme pun telah mengikis secara perlahan ajaran-ajaran kebaikan untuk hidup sederhana dan senang berbagi. Namun, justru budaya hidup berlebih-lebihan  dan saling pamer kekayaan menjadi hal yang biasa. Bahkan, akibat diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini, hingga negeri ini serasa “sold out” oleh para asing dan asing.

 Buktinya, Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Pratikno mengatakan hingga saat ini aset negara sekitar 70-80 persen telah dikuasai asing (m.antaranews.com/10 November 2013). Maka, solusi yang tepat untuk memperbaiki ketiga aspek tersebut tidak lain hanya dengan sistem Islam yang akan menyelesaikan hingga ke akar-akarnya.

Baik secara individu, masyarakat maupun negara. Dari segi individu, seorang yang mengimani Allah SWT dengan keimanan yang benar pasti akan tertancap secara kuat bahwa ia merupakan Hamba Allah yang memiliki tujuan hidup hanya beribadah kepada Allah SWT. Maka, dalam menjalani kehidupan senantiasa diarahkan pada tujuan hidup tersebut. Terlebih ia akan selalu merasa diawasi karena memang ia meyakini bahwa apa yang dilakukan di dunia ini, akan dihisab kelak di akhirat.

Selain itu, dari sisi masyarakat yang Islami akan terbentuk kebiasaan untuk saling mengingatkan antar sesama. Tentunya, sebagai penjagaan dari suasana tersebut harus ada peran negara yang menjalankan Islam untuk menanamkan karakter Islami pada individu dan membangun suasana Islami dalam masyarakat. Sehingga, tidak tercipta individu maupun masyarakat yang berpemahaman terpisah antara pusaran agama dengan pusaran kehidupan. (*)  

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA