Sebarkan Ilmu Batik ke Anak-Anak, Raih Satu Indonesia Award

  • 29-07-2018 / 03:05 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:irawan
Sebarkan Ilmu Batik ke Anak-Anak, Raih Satu Indonesia Award SENI TRADISI: Anjani Sekar Arum (paling kiri) pengrajin batik asal Kota Batu bersama Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Anjani Sekar Arum, pengrajin batik asal Kota Batu, tak pernah membayangkan bisa meraih penghargaan. Selama ini,

ia menghasilkan karya, karena mencintai seni tradisi warisan nenek moyang ini. Dengan bakal luar biasa yang ia miliki, Anjani membuat kain batik bermotif Bantengan, sehingga meraih penghargaan bergengsi Satu Indonesia  Awards pada 2017 lalu.

Namun soal penghargaan yang men­jadi Anjani patut menjadi inspirasi. Ia istimewa karena perjuangannya yang tidak kenal lelah. Mengedukasi warga sekitar sambil membangun usaha kain batiknya. Pasalnya saat me­nerima penghargaan Satu Awards Anjani masih belum memiliki rumah atau bangunan sendiri untuk usaha kerajinan batiknya.

“Iya baru tahun ini kami punya lahan. Insya Allah Oktober ini kita launching. Tempatnya di Desa Bumiaji,” ungkap Anjani ramah kepada Malang Post kemarin.

Keinginan Anjani memiliki lahan sendiri untuk membangun tempat usahanya sudah diidam-idamkannya sejak lama akan tetapi ia sendiri tidak mampu mewujudkannya. Karena Anjani membangun usahanya dengan dibarengi kegiatan sosial.

Yakni mengajar anak-anak sekitar untuk juga mendapatkan ilmu membatik. Galerinya yakni Anjani Batik Galeri dan sanggar membatiknya sendiri tidak memungut biaya pada siapapun anak-anak yang ingin belajar membatik.

“Ya kita ini memang dari dulu inginnya melestarikan budaya. Dan saya suka memberikan ilmu ini cuma-cuma. Hasil anak-anak ini jika jadi, bisa dipajang dan dijual di galeri saya dan hasilnya ya buat mereka juga,” tandas alumnus Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang ini.

Bagi Anjani melahirkan desainer cilik merupakan hal yang membahagiakan dirinya. Karena sering mengajak anak-anak membatik bersama, Anjani kemudian bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu untuk menyebarkan virus batik di tingkat SD-SMA di Batu hingga saat ini.

Ia sempat menceritakan ilmu membatiknya diperolehnya dengan pergi belajar ke Jogjakarta dan Solo. Tak sedikit budget yang harus dikeluarkan untuk belajar teknik demi teknik membatik yang ia kuasai seperti sekarang.

Akan tetapi Anjani tetap memilki prinsip untuk menularkan ilmunya lebih banyak pada anak-anak sekitar kediamannya. Perempuan kelahiran 1991 ini pun juga tidak menduga bakal menjadi pengusaha batik. Selain tidak mempunyai rencana membuka industri batik, ia merasa bukan pebisnis.

“Tahun 2014, saya mengawalinya. Awalnya cuma iseng, ternyata banyak konsumen pesan hasil karya saya,” ujarnya.

Kemudian ia pun memutuskan menekuni batik dan usaha yang turut berkembang hingga dapat membuat pameran tunggal sekitar tahun 2017 yang dibuka Dewanti Rumpoko,

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA