Tutup Sumber, Partorajak Sumbar Minum Air Kencing

  • 29-07-2018 / 12:25 WIB - Editor: Abdul halim
  • Uploader:irawan
  • dibaca:127
Tutup Sumber, Partorajak Sumbar Minum Air Kencing

MALANG – Pemandian Umbulan yang berada di Dusun Umbulrejo, Desa Pamotan, Kecamatan, Dampit bukan sekadar pemandian biasa. Dibangun di awal tahun 1900an, tempat wisata tersebut konon dulu adalah pemandian bagi para meneer dan noni Belanda. Lalu, Umbulan juga menghasilkan beberapa sumber air minum, yang disebarkan setidaknya di tiga kecamatan, yakni Dampit, Turen dan sebagian wilayah Gondanglegi.

Umbulan berasal dari kata ‘umbul’ yang berarti sumber air. Nama menjadi Umbulan, karena sumber tersebut dulunya berada dalam naungan Dusun Ubalan. Namun, setelah tahun 1960an, terdapat Dusun Umbulrejo, yang kini adalah ‘penguasa’ sumber air tersebut.

Tidak ada yang tahu pasti tahun berapa lokasi pemandian tersebut kali pertama dibangun. Namun, berdasarkan cerita beberapa orang tua di kawasan Umbulrejo, pemandian tersebut sudah terus dibangun di tahun 1916.

“Berdasarkan cerita orang tua saya, dan hanya tinggal 1-2 orang, yang orang tuanya tersisa, menyampaikan kalau tahun 1916, pembangunan sudah dimulai. Tidak mudah membangun kolam renang di Umbulan ini,” ujar Kepala Dusun Umbulrejo, Panen Adi.

Menurutnya, terdapat sebuah kisah yang dipercaya turun temurun, setidaknya sudah tiga generasi. Dulunya, pemandian tersebut merupakan area sumber air yang menyembur ke atas, dengan suara yang sangat kencang. “Bunyinya seperti dengung mesin pesawat. Sangat keras,” ungkapnya.

Lantas, kepala desa pada masa itu berusaha untuk menutup sumber tersebut. Berbagai benda berat, coba dilemparkan ke dalam sumber, yang masih belum berbentuk kolam renang. Lebih dari satu truk batu hingga sapu ijuk, dilemparkan ke dalam sumber. Bahkan, karena percaya akan mistis, gong pun disiapkan sebagai sumbal. Memang sarat mistis.

Sang kepala desa yang dulu bernama Partorajak, sampai bersumbar. Siapa yang bisa menutup sumber tersebut, bakal diminum air kencingnya. “Memang sarat mistis. Banyak orang percaya ilmu Kejawen dan itu benar-benar terjadi,” tegas dia.

Dia menyampaikan, setelah itu air berhenti. Akan tetapi, warga mempunyai kewajiban untuk memberikan sesaji, setiap 1 Suro. Hal itu sekaligus sebagai sedekah bumi, karena desa mendapatkan sumber air yang melimpah. Di area pemandian, ada sekitar 10 sumber yang beberapa di antaranya dimanfaatkan oleh PDAM dan menjadi sumber air untuk banyak masyarakat di Dampit, Turen dan beberapa daerah di Gondanglegi.

“Itulah yang membuat tempat ini selalu ada tradisi barikan. Ini sedekah bumi, sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan. Ada salah satu orang tua,

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA