Memaknai Kartini Dalam Perspektif Islam

  • 27-04-2018 / 00:01 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:angga
Memaknai Kartini Dalam Perspektif Islam ist

tempat yang terhormat di masyarakat. Praktik yang tidak manusiawi ini tercatat berlangsung lama dalam sejarah peradaban masa lalu.

Dalam tradisi Arab, kondisi perempuan menjelang datangnya Islam bahkan lebih memprihatinkan. Perempuan di masa jahiliyah dipaksa untuk selalu taat kepada kepala suku atau suaminya. Mereka dipandang seperti binatang ternak yang bisa di kontrol, dijual atau bahkan diwariskan. Arab jahiliyah terkenal dengan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup dengan alasan hanya akan merepotkan keluarga dan mudah ditangkap musuh yang pada akhirnya harus ditebus. Dalam dunia Arab jahiliyah juga dikenal tradisi tidak adanya batasan laki-laki mempunyai isteri.

Islam sesungguhnya agama yang menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Hal ini telah banyak diungkap dalam Al-Quran maupun Sunnah Nabi SAW. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan penuh dalam beribadah dan ketakwaan. Al-Qur’an menyebut bahwa siapa pun yang berbuat baik, laki-laki atau wanita, Tuhan akan memberikan pahala yang setimpal (QS. 3:195 dan 16:97).

Nabi Muhammmad sendiri pernah menyatakan ”Sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya (termasuk kepada istrinya), dan saya adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi). Dengan demikian, kekerasan di dalam rumah tangga sedikit pun tidak ditolerir dalam ajaran agama.

Islam mengajarkan kaum laki-laki dan perempuan agar saling menyayangi dan mengasihi. Itu sebabnya, asumsi yang mencatut Islam sebagai agama tidak ramah perempuan adalah keliru besar. Islam dengan tegas mengutuk praktik-praktik kekerasan terhadap perempuan. Pandangan egalitarisme Islam kaitannya relasi laki-laki dan perempuan telah ditetapkan dalam teks-teks suci Islam.

Sayangnya, kita pun tak bisa menutup mata, ada sejumlah teks-teks agama yang sengaja ditafsir oleh sebagian orang untuk merendahkan dan memosisikan perempuan pada subordinat kaum laki-laki. Tafsir semacam inilah yang perlu diluruskan terlebih dahulu sehingga tidak memberi peluang bagi tindak kekerasan terhadap perempuan atas nama pembenaran teks-teks agama. (*)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA