Trauma Berat, Menangis Ingat Pengungsi Rebutan Makanan

  • 10-08-2018 / 23:31 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:hargodd
Trauma Berat, Menangis Ingat Pengungsi Rebutan Makanan Korban Gempa Lombok, Agus Suprianto (kiri) ketika ditemui Malang Post di rumahnya. (AMANDA EGATYA/MALANG POST)

Satu keluarga korban gempa Lombok terpaksa mengungsi ke Kota Malang, kemarin. Yakni keluarga Agus Suprianto, warga asal Jalan Plaosan Timur, Kota Malang. Keluarga ini masih mengalami trauma psikis atas bencana tersebut. Bahkan, ia terpaksa menunda wawancara dengan Malang Post selama beberapa jam, lantaran dilanda histeria.

Ya, ditemui Malang Post, Agus berkaca-kaca ketika menceritakan kejadian itu. Pada malam kejadian, Minggu (5/8), pria berumur 45 tahun ini, sedang berada di rumahnya, yakni kawasan Dusun Jambianom, Lombok Utara. Di sana, ia bersama dua orang anak kembarnya yang berusia 9 tahun, Bulan dan Bintang.

Sementara, istrinya, Kuswatiningsih (41 tahun) sedang berada di rumah temannya. Jauh di Kota Mataram, Nadia (19 tahun) sang anak sulung berada di tempat kosnya “Ketika guncangan terjadi, saya refleks keluar rumah dengan kedua anak saya. Ketika keluar, pagar rumah saya langsung ambruk,” terang dia sambil gemetar.

Kalau diukur dari titik pusat gempa, rumah Agus berjarak sekitar 20 kilometer dan memiliki dampak yang lumayan besar. Kemudian, ia berusaha menitipkan kedua anaknya tersebut kepada tetangganya. Kemudian, ia berusaha menghubungi istri dan anak sulungnya namun tidak mendapat jawaban.

“Saya panik, istri saya terus saya telepon,” papar dia.

Sementara, anak sulungnya, menyusul pulang keesokan harinya. Setelah berkumpul, Agus dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi di sebuah bukit, yakni di punggung Gunung Rinjani. “Sebab, ketika itu santer terdengar isu tsunami. Kami akhirnya menyelamatkan diri kesana. Setelah kejadian gempa, listrik mati, air mati dan sinyal susah,” papar dia.

Ketika sudah dinyatakan aman dari tsunami, pria asal Malang yang sudah 16 tahun hidup di Lombok tersebut kemudian memutuskan kembali ke kawasan Lombok Utara. “Ketika hendak kembali ke Lombok Utara, juga gotong royong. Sebab, jalan tertutup longsor akibat gempa. Kami gotong royong untuk membuka jalan,” kata dia.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya ia bisa kembali ke Lombok Utara. Ketika gempa terjadi, ia tidak berpikir seberapa jauh ia berlari. Asal keluarganya selamat. Ketika kembali kesana pun, situasi begitu menyedihkan. Kawasan Lombok Utara yang indah berubah menjadi barak pengungsian. Ketika di Lombok Utara, Agus sempat melihat rumahnya yang juga sedikit hancur.

Selain kondisi fisik alam yang berubah, jalinan persaudaraan juga berubah. Masyarakat Lombok yang sangat erat antar tetangga dan sudah seperti saudara berubah menjadi musuh. “Ketika menerima bantuan berupa

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA