Momen Berdoa di Makam Ulama Besar

  • 01-09-2018 / 18:56 WIB - Editor: febri s
  • Uploader:angga
Momen Berdoa di Makam Ulama Besar Syaiful Mustofa bersama rombongan menikmati kunjungan ke beberapa tempat di Irak dan Turki. Beliau juga melihat isi museum Hagia Sophia Istanbul serta berdo’a di makam Imam Abu Hanifah. (ist)

MALANG – Dr H Syaiful Mustofa MPd, Kabag Lembaga Kerjasama UIN Maliki beruntung karena menjadi delegasi Perguruan Tinggi di Indonesia dalam pertemuan bersama Kemenag di Universitas Baghdad. Pertemuan bersama 20 negara muslim lainnya ini membahas Islam moderat – Irak, sebelum dan semasa ISIS.

Berada di Universitas Baghdad sebagai tamu negara, membuatnya juga berkesempatan untuk mengunjungi makam-makam alim ulama di Irak. Mulai dari mengunjungi makam Ustadz Abdul Qadir Jaelani sebagai sultonul auliya’ umat Islam. Dilanjutkan dengan makam Imam Junaid Al Bahgdad yang merupakan pionir tasawuf NU.

Makam Abu Hanifa sebagai wali besar di zaman Irak dan ulama yang konon menyembunyikan kewaliannya yakni Syekh Bahlul Umair At Tasyrifi. Bahkan, dalam deretannya mengunjungi makam ulama, nabi yang hidup di zaman Nabi Musa, yakni Nabi Yusya bin Nun tak ketinggalan.

“Saya bisa berkunjung kesana adalah nikmat luar biasa, dapat mengunjungi makam pionirnya orang suci. Sampai diperbolehkan berada di depan makam. Sungguh luar biasa rasanya,” ungkap Saiful.

Dengan dominan kristal, makam terlihat begitu terawat. Antar makam jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga dalam satu hari dia dapat berdoa di lima makam sekaligus. Bahgdad sebagai lokasi rawan konflik membuatnya juga harus dikawal tentara selama perjalanan.

“Saya mendapat fasilitas mobil anti peluru mengingat berada di negara rawan konflik. Di sana masih terjadi tembak-menembak antar tentara Irak dengan ISIS,” bebernya.

Perjalanannya selama satu minggu yang dimanfaatkannya berziarah di makam. Hal itu membuatnya mengenal dua makam yakni Syekh Bahlul Umair At Tasyrifi dan Abu Hanifa dilengkapi dengan masjid dan kampus Islami. Dia juga memanfaatkan waktu transitnya untuk berkeliling pasar tradisional di sana.

“Di pasar tampak aman, meski ada peperangan. Harga barang di pasar tersebut terbilang mahal, ya sebab negara konflik,” ulasnya.

Masjid Blomus di Turki terkesan elegan dengan warna birunya. Begitupun masjid yang berada di Jalan Konstantin yang juga menjadi museum Hagya Sofa. Dia juga mengunjungi masjid terapung yang memang dibangun diatas laut dan rata-rata didominasi kristal. (ita/feb)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA