Utang Tak Kembali, Christea Bakal Dipolisikan

  • 08-09-2018 / 01:02 WIB - Editor: marga
  • Uploader:marga
Utang Tak Kembali, Christea Bakal Dipolisikan Inilah bentuk counter check BRI Cabang Kemayoran senilai Rp 5 miliar yang diserahkan Christea kepada PPLP-PT PGRI sebagai jaminan utang.(MARGA NURTANTYO/ MALANG POST)

MALANG- Christea Frisdiantara lagi-lagi dirundung ma­salah. Setelah ditetapkan sebagai tersangka pe­malsuan surat keterangan domisili di Polresta Sidoarjo, kini dia terancam dipolisikan Soedja’i, lawannya dalam sengketa Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Persatuan Guru Re­publik Indonesia (PPLP-PT PGRI) Universitas Kan­juruhan Malang (Unikama).

Pria asal Jalan Terusan Tinombala Malang ini, dalam waktu dekat dilaporkan karena tidak menyelesaikan utang Rp 5 miliar ke PPLP-PT PGRI sejak tahun 2016 lalu. “Segera dilaporkan biar jelas perkaranya,” kata MS. Alhaidary, SH, MH, ketua tim kuasa hukum PPLP-PT PGRI kubu Soedja’i.

Dijelaskan dia, bulan Maret 2016, Christea, pan­ggilannya dan Roy Setio Kurniawan, temannya yang tinggal di Jalan Pandegiling Surabaya, meminjam uang dari PPLP-PT PGRI Unikama sebesar Rp 5 miliar. “Bukti pengakuan utang itu, dicatatkan ke notaris Benediktus Bosu, tanggal 29 Maret 2016,” tuturnya.

“Dua kali di bulan Maret, uang itu ditransfer hingga sejumlah Rp 5 miliar,” tambah dia. Sebagai jaminan, Christea dan Roy memberikan counter cek senilai Rp 5 miliar dari Bank BRI Cabang Kemayoran Jakarta. “Tapi sampai sekarang, tidak terbayar. Oleh bank ditolak karena tidak ada isinya,” tegas Haidary. 

Padahal, lanjutnya, dalam perjanjian pengakuan utang itu, Christea dan Roy harus mengembalikan uang Rp 5 miliar, paling lambat satu bulan sejak pengakuan utang itu dituliskan di dalam akta No 58, tanggal 29 Maret 2016. “Di kepengurusan, masih ada nama ayahnya, Soenarto,” tutup dia.

Sementara, menurut Dr. Susianto, SH, M.Hum, CLA, ketua tim kuasa hukum PPLP-PT PGRI Unikama kubu Christea menerangkan, dulu memang pengurus PPLP-PT PGRI memiliki rencana mendirikan rumah sakit. “Pak Christea dikenalkan seseorang dan mengajak kerja dengan calon investor,” tuturnya.

Setelah pertemuan pengurus beberapa kali disepakati kerjasama dengan calon investor, pengurus PPLP-PT PGRI mendirikan PT. Kanjuruhan Mitra Strategis (KMS) dengan para pemegang saham para pengurus, ditambah notaris Benediktus Bosu. Tetapi, lanjutnya, para pemegang saham antara lain Soedja’i, Agus Priono dan Abdul Bakar tidak pernah setor saham.

“Dalam KMS, saya diangkat sebagai Presdir dan Roy sebagai Preskom. Kemudian dibuat akta pe­ngakuan utang saya sebagai Presdir dan Preskom ke­pada PPLP. Uang Rp 5 miliar itu sama sekali tidak pernah diterima pak Christea. Cek sebesar Rp 5 miliar di tandatangani Pak Soedjai kemudian diserahkan ke Bakar untuk dibawa ke kantor BRI Kawi,” urainya.

Di sana, tegas

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA