Besok, Ritual 1 Suro Gunung Kawi

  • 09-09-2018 / 23:12 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:hargodd
Besok, Ritual 1 Suro Gunung Kawi Sengkala berbentuk raksasa berwajah menyeramkan buatan warga RW 04 Desa Wonosari ini akan dibakar saat Gebyar Ritual 1 Suro, Gunung Kawi, Selasa (11/9) besok. (ira ravika/malang post, grafis: hargodd, tem/mp)

MALANG – Peringatan 1 Muharam atau tahun baru Islam 1440 H digelar di Malang Raya dengan berbagai kegiatan. Ada yang bernuansa kultural karena bersamaan dengan 1 Suro sebagai tahun baru Jawa. Seperti Gebyar Suro Pesarean Gunung Kawi dan ritual jamasan pusaka di Kota Batu.

Ada juga yang bernuansa religius yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Jamik Kota Malang.

Di Gunung Kawi, masyarakat Desa Wonosari, memilih menggelar gebyar ritual 1 Suro. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual ini menampilkan rangkaian kegiatan. Mulai dari kirab sesaji, ikrar tumpeng di pesarean Eyang Djugo alias Kyai Zakaria dan Raden Mas Iman Soedjono. Berlanjut dengan pembakaran sengkala, di Stadion Gebyar  Suro, Gunung Kawi. Berbeda dengan tahun sebelumnya. Gebyar ritual  1 Suro tahun ini, ada tambahan pertunjukan tari, yaitu tari Gumrigahing Gunung Kawi.

”Ini merupakan kali pertama tari Gumrigahing Gunungkawi dipertunjukkan. Tarian ini melibatkan 95 orang. Mereka dari siswa SMPN 1 Wonosari, siswa SMPN 4 Kepanjen, dan SMK Kepanjen,’’ kata Kepala Desa Wonosari, Kuswanto.

Ditemui Malang Post di Kantor Desa Wonosari, kemarin siang, Kuswanto menguraikan jika ritual 1 Suro ini digelar mulai hari Senin (10/9) malam. Yaitu diawali dari pagelaran wayang di Padepokan Eyang Djugo. Dalam pagelaran wayang tersebut, juga sekaligus menunggu kedatangan peserta napak tilas Eyang Djugo, dari Kesamben. Blitar.

”Peserta napak tilas sekitar 1.200 orang. Mereka berjalan kaki, menyusuri petilasan Eyang Djugo. Datang di pesarean sekitar pukul 00.00,’’ ungkapnya.

Sementara Selasa (11/9), dilanjutkan dengan kirab sesaji. Kegiatan kirab diikuti oleh 14 RW di Desa Wonosari. Kirab sesaji, masing-masing peserta membawa tumpeng yang diletakkan pada jolen, yang dihias sangat menarik. Itu karena, kirab ini dilombakan, jolen terbaik, akan di dapuk sebagai pemenang.

”Ini yang membuat kami berbeda. Jolen atau tempat tumpeng tidak hanya dibuat biasa. Tapi dibuat sangat menarik. Beberapa RW jolennya sudah jadi, di RW 01 contohnya, jolen yang membawa tumpeng berupa patung kuda putih,’’ ungkap Kuswanto.

Kirab sesaji ini sendiri rencananya berangkat dari terminal Wonosari. Di mana peserta kemudian berjalan kaki menuju perkampungan Gunung Kawi. Mereka membawa sesaji berupa tumpeng tersebut di pesarean Eyang Djugo dan Raden Mas Iman Soedjono. Di pesarean ini, seluruh tumpeng didoakan. Selanjutnya, setelah prosesi doa selesai, tumpeng akan menjadi santapan warga dengan tradisi rebutan. Warga menunggu moment rebutan

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA