Rendra Kresna: Surplus Daging Kabupaten Capai 25,3 Ton Per Tahun

  • 14-09-2018 / 00:21 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:hargodd
Rendra Kresna: Surplus Daging Kabupaten Capai 25,3 Ton Per Tahun Petugas dari Dinas Peternakan Jatim mengecek kondisi sapi milik peternak sebelum disuntik Inseminasi Buatan (IB) atau cukup disuntik vitamin saja. (HARY SANTOSO/MALANGPOST)

LENGUH sapi yang tengah birahi, bersahutan. Layaknya konser, sekitar 150 ekor sapi melenguh menarik perhatian. Ya, mereka minta di-IB (Inseminasti Buatan). Disuntik sperma beku (straw) agar bisa bunting.

“Saat seperti ini (progam IB), yang kami tunggu,” ucap Pitoyo, anggota Kelompok Ternak Sapi Potong Wonokoyo, Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Pagi itu, Pitoyo membawa empat ekor sapinya. Mulai jenis Simental, Limousine, Brahman sampai sapi lokal.

“Ada yang waktunya di-IB. Ada pula yang hanya butuh disuntik vitamin. Karena sudah bunting,” timpal Pitoyo dengan wajah sumringah.

Tidak hanya Pitoyo. Ada 100 peternak lainnya, membawa pula sapinya ke lapangan. Tujuan dan harapannya sama. Mereka ingin sapinya bisa bunting. Sebab, jika sapi bunting maka ekonomi mereka sangat diuntungkan.

‘’Kami mendapatkan IB-nya gratis. Tidak bayar sama sekali,’’ katanya.

Proses pembuntingan sapi ditangani tim Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB). Sebuah tim khusus bentukan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim.

Di Wonoayu, anakan sapi (pedhet) usia 5 bulan harganya sangat mahal sekali. Bahkan, pedhet jenis limousine milik Ahmad Fauzi, Kaur Keuangan Desa Wonoayu dibanderol Rp 14 juta.

‘’Anaknya saja sudah mahal. Apalagi kalau sudah dewasa. Harga jual sapi usia 2,5 tahun bisa mencapai 28 juta,’’ papar Fauzi.

Beranggotakan sekitar 30 orang. Tim UPSUS SIWAB datang dari Surabaya dengan peralatan lengkap. Plus aneka vitamin dan straw berbagai indukan sapi. Ada straw sapi limousine, sentimental dan brahman.

‘’Tidak setiap hari ada progam suntik IB seperti ini. Makanya, saat ada kunjungan tim UPSUS SIWAB peternak sangat senang,’’ jelas Wina Nurnama S.Sos., M.Si, Kepala Desa Wonoayo.

Sepuluh tahun lalu, Desa Wonoayu sangatlah miskin. Desa merah. Desa miskin dan tertinggal yang terdaftar di Kementerian Desa Tertinggal. Tetapi berkat kerja keras Pemerintah Provinsi Jatim dan Pemerintah Kabupaten Malang serta dukungan warganya, kini Wonoayu berubah total. Desa Wonoayu telah menjadi desa maju. Menjadi desa makmur. Karena mayoritas penduduknya kini peternak sapi yang berhasil.

‘’Sekarang mau beli tanah, bisa. Mau beli rumah, bisa. Sekolah anakpun terjamin. Sudah banyak juga yang naik haji dari jualan sapi,’’ tambah bu Kades yang sangat dihormati penduduknya ini.

Jumlah Kepala Keluarga (KK) Wonoayu 392 KK dengan penduduk 1.550 jiwa.  Sedang jumlah peternaknya ada 302 KK. Capaian Desa Wonoayu, kini berpengaruh sampai di tingkat kabupaten. Saat ini populasi ternak di Wonoayu kurang

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA