Persiapan Satu Bulan, Hanya Satu Peluang

  • 14-09-2018 / 05:18 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
 Persiapan Satu Bulan, Hanya Satu Peluang Dedik Setiawan yang baru gabung Timnas tak bisa berbuat banyak, dalam skema bermain 4-3-3 tim Arema kalah 2-0 lawan Persib. (stenly/mp)

KALAH menang, tetap Arema. Kalah kudukung, menang kusanjung. Sumpah setia untuk selamanya. Kami Aremania, bukan menangmania. Kalah menang biasa, kami tetap Aremania. Demikian sederet kalimat indah sebagai obat penenang. Menyusul kekalahan tim Singo Edan di kandang Persib Bandung, 2-0. Kekalahan yang mungkin sudah banyak diprediksikan sebelumnya.

Jujur, saya salah satu yang memprediksi itu. Menyusul ada seorang kawan, serius bertanya, beberapa menit sebelum kick off Persib vs Arema. Saya harus menjawabnya dengan berat hati. Arema berat untuk minimal bisa imbang. Jawaban jujur ini harus saya sampaikan, karena kawan itu ingin bertaruh untuk tim Arema. Hingga akhirnya dia membatalkan taruhannya.

Saya katakan berat. Tapi dalam hati yang paling dalam, berat bukan berarti tidak ada peluang. Berapa pun angkanya, peluang tetaplah peluang. Ya, saya masih menaruh harapan, Arema bisa memetik poin di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Namun harapan itu tinggal harapan. Tak hanya soal hasil akhir, tapi karena melihat permainan Arema, tak sesuai harapan.

Kecewa. Kalau boleh. Ya, sebagai penikmat Arema. Punya rasa memiliki. Kecewa, adalah sah. Lalu, apakah masih tetap setia pada Arema? Ini pertanyaan yang rasanya kurang pas. Kalau tidak disebut pertanyaan yang kurang cerdas.  Menikmati Arema, jadi pendukung atau sekedar penonton. Tak ada hubungannya dengan setia atau tidak setia. Apalagi kalau sudah cinta.

Tapi kalau umak mendadak tidak setia, ya silahkan. Saya hanya sedikit memberi catatan dari laga Arema, kemarin sore. Sekali lagi, ini bukan soal setia atau tidak setia. Intinya, tidak mau begitu saja menelan obat penenang tadi. Karena kecewanya bisa jadi tujuh hari tujuh malam, atau hingga tujuh minggu, atau bahkan tujuh bulan lamanya, kalau sampai Arema degradasi.

Ini Arema. Ini Malang. Blak-blakan. Lugas, keras dan pedas. Dalam memberi kritik, dan masukan. Berharap Arema tetap Singo Edan, bukan Puteri Solo. Bolehlah kita sedikit nakal. Seperti sederet striker ‘nakal’ yang pernah dimiliki Arema.  Coba menganalisa dari kacamata berbeda. Bukan dari kacamata tim pelatih atau manajemen Arema, yang kita tak bisa menyentuhnya.

Kenapa Arema tampil dengan skema 4-3-3? Kenapa hanya menempatkan seorang Dedik Setiawan sebagai target man? Kenapa Nur Hardianto tidak tampil sejak awal? Kenapa dua pemain timnas, Hanif dan Bagas tidak tampil? Kenapa Sunarto tidak dicoba? Kenapa kiper asing menjadi cadangan? Kenapa lini

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA