Koleksi Pertamanya Buku Bekas, Kini Juara 1 Nasional Perpustakaan Desa

  • 14-09-2018 / 23:21 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:hargodd
Koleksi Pertamanya Buku Bekas, Kini Juara 1 Nasional Perpustakaan Desa Atul Choiriyah, menunjukkan piagam dan piala sebagai perpustakaan desa terbaik tingkat nasional. (AGUNG PRIYO/MALANG POST)

Luar biasa. Baru tiga tahun berdiri, namun Perpustakaan Gampingan Gemar Membaca (GGM), di Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, sudah meraih prestasi tingkat nasional. Perpustakaan GGM menjadi juara I untuk Klaster A dalam lomba perpustakaan umum terbaik desa atau kelurahan se-Indonesia. Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Perpustakaan RI, Muhammad Syarif Bando,

pada 6 September 2018 lalu.

 

“Kami datang untuk belajar, kami pulang untuk membawa ilmu”. Kalimat itulah yang terpasang pada dinding Perpustakaan GGM, yang berada di Jalan Raya Gampingan, Kecamatan Pagak. Makna dari kalimat itu, bahwa anak-anak desa yang datang ke Perpustakaan GGM, tidak sekadar bermain. Mereka belajar dan pulang membawa ilmu yang baru dipelajarinya.

 

“Semuanya boleh datang untuk belajar ke perpustakaan ini. Sebab kami tidak membatasi anak untuk belajar. Perpustakaan GGM ini, buka pagi sampai malam hari kecuali tanggal merah,” ungkap Atul Choiriyah, Kepala Perpustakaan GGM.

Perpustakaan GGM ini, berdiri pada bulan April 2015. Sebelum memiliki gedung sendiri dan menjadi terbaik tingkat nasional, semula menumpang di lantai dua Kantor Desa Gampingan. Itupun gabung dengan kantor PKK serta karang taruna desa.

Adalah tiga orang yang berjasa mendirikan Perpustakaan GGM ini. Mereka adalah Atul Choiriyah, seorang guru tidak tetap (GTT) SMP Negeri 2 Kepanjen, Yayuk Wijayanti serta Ninik, seorang ibu rumah tangga. Ketiganya saat itu tergerak, karena ingin menumbuhkan minat baca kepada anak-anak desa.

Untuk memulai mendirikan perpustakaan, mereka harus mengumpulkan buku bacaan. Semua buku bacaan bekas milik ketiganya yang sudah tidak terpakai, dibawa ke perpustakaan. Termasuk membeli beberapa buku dari loakan.

“Saya masih ingat, dulu pertama kali membawa buku Bahasa Inggris milik anak saya,” ujar Yayuk Wijayanti, yang langsung disambung oleh Atul. “Kalau saya, buku bekas sekolah dan kuliah,” ucap Atul.

Selain mengumpulkan buku-buku, Atul yang membuka les privat di rumahnya, juga memboyong anak didik les ke perpustakaan. Ini dilakukan untuk menghidupkan aktivitas perpustakaan. “Kebetulan rumah saya di belakang Kantor Desa, sehingga anak-anak yang les, saya arahkan ke perpustakaan,” tutur Atul.

Berkat ketekunan dan keuletan mereka bertiga, Perpustakaan GGM inipun berkembang menjadi besar. Dari semula menempati lantai dua Kantor Desa, kini sudah menempati bangunan sendiri eks Kantor Bumdes di Jalan Raya Gampingan sejak 2017.

Bangunannya bertingkat dua lantai. Tidak terlalu luas. Namun penataan yang baik serta desain ruangan yang

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA