Beri Kuliah Umum

  • 21-09-2018 / 10:23 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:dinda
Beri Kuliah Umum KULIAH UMUM: Hashim Djojohadikusumo memberi kuliah umum dengan materi Indonesia saat ini dan tantangannya di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB, kemarin.

MALANG – Permasalahan Indonesia mulai dari kesehatan hingga pendidikan Nasional menjadi sorotan Hashim Djojohadikusumo. Terlebih selang 12 tahun dari sekarang, Indonesia akan mengalami pengurangan tenaga kerja karena proses penuaan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda untuk mengatasi permasalahan tersebut termasuk menyiapkan solusi praktisnya.

“Kondisi bangsa kita berat dan saya sudah mempelajarinya 10 tahun lalu. Jika didiamkan tidak mungkin Indonesia mampu menghadapi revolusi 4.0,” ujar Hashim Djojohadikusumo dalam kuliah umum dengan materi Indonesia saat ini dan tantangannya di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB, kemarin.

Adik kandung Parbowo Subianto ini mengemukakan, kondisi bonus demografi Indonesia yang diperkirakan berakhir pada 2030. Artinya, masih ada waktu 12 tahun lagi untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut. Sebab akan terjadi proses penuaan sehingga angkatan kerja pun berkurang. Selain itu, ketidak mampuan penduduk Indonesia membeli makanan sehat menjadi faktor pemicu tingginya stunting growth (kondisi pendek dan kurang cerdas) sebesar 38% di Indonesia. Menurutnya, kondisi ini membuat anak-anak saat dewasa akan susah mendapatkan pekerjaan yang layak. “38% SDM Indonesia tidak mampu untuk memberi kontribusi pada bangsa dan negara karena gagal mendapat pekerjaan yang layak dan sebatas buruh kasar,” tegasnya.

Belum lagi permasalahan pendidikan berdasarkan survey performance in science reading and mathematics 2015, Indonesia berada diposisi 62 dari 72 negara. Dia membeberkan, menurut pendapat ahli permasalahan bukan pada anggaran tetapi pada manajerial dan administrasi. Termasuk masalah korupsi yang terjadi lebih banyak disebabkan kendali pemerintah daerah.

“Kendali pemerintah 48% dikendalikan oleh pusat, baru sisanya oleh daerah. Hal ini yang menyebabkan sering terjadi penyimpangan dan tidak ada kontrol sehingga tidak banyak yang tepat sasaran,” tandasnya.

Ketahanan energi dan lingkungan hidup menjadi permasalahan lain. Indonesia harus mencari alternatif sumber energi yang cukup dengan solusi harus memberdayakan sektor kehutanan dan pertanian. Dalam hal lingkungan, sebagai penghasil sampah plastik tertinggi nomor 2 di Indonesia, maka harus segera diselesaikan.

“Poin-poin itu terdengar menyeramkan, tapi mahasiswa harus mengetahui. Ini menjadi tantangan semua pihak, jika solusi dari saya adalah tax rasio (pajak). Sebab, pajak dapat membiayai mulai dari gaji pegawai negara maupun untuk kepentingan keamanan dan ketertiban,” imbuhnya. (ita/udi)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA