MENGETUK PINTU SURGA

  • 19-05-2018 / 10:34 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
MENGETUK PINTU SURGA Achmad Shampton Masduqi, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) NU Kota Malang (Ist)

Puasa mempunyai dua elemen, mencegah dan meninggalkan. Keduanya merupakan perilaku hati bukan amal yang nampak. Mayoritas amal ketaatan itu bisa dilihat, seperti salat, shadaqah, haji, zakat. Sementara puasa tidak bisa dilihat kecuali oleh Allah. Karenanya Nabi Muhammad menyatakan bahwa setiap amal kebaikan akan diganjar sepuluh hingga tujuhratus kali lipat kecuali puasa yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Puasa adalah sebagian dari kesabaran, kesabaran sebagian dari iman, Allah menjanjikan orang yang bersabar, pahala yang tidak disangka-sangka sebagaimana disebutkan dalam azzumar ayat 10. Suatu hari Nabi berkata pada isterinya Sy. Aisyah; “Teruslah mengetuk pintu surga” “dengan apa?” tanya Sy. Aisyah. “dengan lapar” jawab Nabi.

Yang perlu dipahami sabar itu kalimat aktif, bukan kalimat pasif, menunggu takdir. Orang yang sabar senantiasa berikhtiar bukan berpangku tangan. Begitu juga dalam berpuasa, bukan kemudian bisa dimaknakan kesempatan untuk beristirahat.

Hadits naumu shaim ibadah tidak sekedar boleh dimaknakan tidurlah agar dinilai ibadah, tetapi harus menggunakan paradigma kalau tidur saja terhitung ibadah apalagi berkarya dan menambah amal. Tentu kita ingat bahwa perang badar terjadi dibulan Ramadan. Para sahabat Nabi berperang dalam keadaan lapar. Nabi pun mengingatkan betapa banyak orang yang berpuasa, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Pahala yang luar biasa bagi orang yang berpuasa ini tidak akan tercapai kecuali dengan menjalani syarat dan rukunnya yang benar.

Rukun puasa seperti kita tahu ada dua, yaitu niat dimalam hari hingga sebelum masuk subuh untuk puasa wajibnya seperti di bulan Ramadan ini, karena hadits barangsiapa yang tidak berniat puasa dimalam hari maka dia tidak dianggap puasa.

Sementara untuk puasa sunnah bisa melakukan niat sebelum masuk waktu Dzuhur. Suatu hari Nabi bertanya kepada Sy. Aisyah “apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” Sy. Aisyah berkata “tidak ada” Nabi kemudian berkata : “kalau begitu hari ini aku berpuasa.”

Rukun yang kedua adalah menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa dari Subuh hingga Maghrib. Secara fikih yang membatalkan puasa hanyalah makan minum atau memasukkan sesuatu kedalam tubuh kita, namun untuk mendapatkan pahala dari puasanya seseorang harus meningkatkan diri tidak sekedar menghindarkan dari hal-hal yang membatalkan puasa namun juga menghindarkan hal-hal yang menghilangkan pahala puasanya seperti sabda Nabi: “lima hal yang membatalkan (pahala) puasa yaitu berbohong, menggunjing, mengadu domba,

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA