Kirim Petisi ke Dikti, Civitas Akademika Unikama Tolak Rektor Koento Adji

  • 05-10-2018 / 21:40 WIB - Editor: marga
  • Uploader:marga
Kirim Petisi ke Dikti, Civitas Akademika Unikama Tolak Rektor Koento Adji BERGOLAK: Sekelompok orang mengenakan jaket almamater Unikama berusaha masuk ke dalam kampus, kemarin. Namun aksi ini dihalang-halangi aparat yang berjaga. Foto kanan, Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian.

MALANG- Setelah pelantikan Dr Koento Adji Kurniawan sebagai Pjs Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) versi PPLP-PT PGRI Christea Frisdiantara dilakukan, kampus yang berada di Jalan S. Supriyadi Malang, kembali bergolak, Jumat (5/10). Dua pintu utama kampus ditutup.

Sedangkan satu pintu lagi yang biasa digunakan untuk jalan menuju tempat parkir sepeda motor, dijaga ketat petugas. Pengamanan ini dilakukan oleh pihak kampus, setelah beberapa orang mengenakan jas almamater Unikama datang dan hendak masuk ke dalam kampus multikultural tersebut.

Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian menegaskan, seluruh civitas akademika menolak kehadiran Koento Adji Kurniawan dan pejabat struktural yang dibentuk Drs Selamet Riyadi MM, Plt Ketua PPLP-PT PGRI kubu Christea agar tidak terjadi dualisme rektor di kampus. “Pelantikan itu sudah langgar statuta Unikama,” tegas Pieter. 

Kepada wartawan, ia menjelaskan bila statuta Unikama adalah sebagai panduan. “Di dalam Pasal 24, dikatakan rektor dapat diberhentikan apabila berakhir masa jabatan, meninggal dunia, berhalangan tetap, mundur, dinilai tidak cakap, melanggar kode etik atau pidana penjara,” terangnya.

Menurut Pieter, dari persyaratan-persyaratan itu, tidak ada satu syarat yang bisa memberhentikan rektor. “Proses pemberhentiannya saja sudah tidak sesuai statuta. Pasal 21 dan 23 menyebutkan, tugas PPLP mengangkat dan memberhentikan rektor setelah dapat pertimbangan dari senat,” urainya.

Pieter sendiri mengakui bila dia diangkat oleh PPLP-PT PGRI yang diketuai Soedja’i. “Jadi saya tegaskan, prosesnya sudah tidak benar sama sekali. Berdasarkan aturan itu, tidak sesuai ketentuan. Kesimpulannya, civita akademika tidak setuju dan menolak pengangkatan rektor baru karena tidak sah,” tambah dia.

Lulusan doktor Universitas Brawijaya ini menegaskan, beberapa dosen bahkan langsung mengantarkan petisi penolakan itu ke Dikti, bersamaan dengan pelantikan Koento Adji Kurniawan di Hotel Gajah Mada Malang. “Tanggal 27 September lalu, Senat juga mendukung semua kebijakan yang diambil rektor,” paparnya.

Salah satunya pembayaran lewat rekening rektor. “Saya dianggap memerintah pembayaran ke rekening rektor. Memang di statuta, semua pembayaran lewat PPLP, tapi karena situasi tidak normal, akhirnya dilakukan melalui rektor selama lima bulan sejak April sampai Agustus,” tegas lulusan S2 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial ini.

Dia yang didampingi beberapa wakil rektor dan staf humas, meminta agar kubu Christea tidak mengganggu ketenangan mahasiswa saat ini, apalagi menjelang wisuda. “Silahkan konflik di luar, jangan bertarung di dalam kampus. Kementrian juga mulai apatis karena terganggu

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA