Jejak Segregasi Sosial Di Lorong Pecinan

  • 08-10-2018 / 17:29 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:abdi
Jejak Segregasi Sosial Di Lorong Pecinan KAWASAM HERITTAGE: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang menetapkan kawasan Pecinan sebagai salah satu kawasan Herittage Kota Malang. (ipunk/mp)

Konsep “Pengurungan” Segregasi

MUNGKIN sudah banyak yang tahu dan mengagumi kawasan Pecinan Kota Malang. Tempat warisan sejarah sosial dikala warga pribumi Malang bersama warga Tionghoa dapat bersama membangun kawasan kecil sejak zaman Belanda hingga menjadi pusat perekonomian di Kota Malang saat ini. Namun, kawasan tersebut ternyata memiliki sejarah sedikit kelam, karena sempat dibuat dalam konsep “pengurungan”

Sejarawan Kota Malang M Dwi Cahyono mengatakan, dalam Patembayan Citralekha menjelaskan, Pecinan adalah salah sebuah klaster sosial pada pusat kota di suatu daerah.

Pada masa kolonial di era Hindia-Belanda, areal tinggal tertentu bagi warga etnik yang sama sengaja untuk diciptakan dalam kerangka ‘segregasi sosial’. Untuk itu, warga etnik kategori ‘Timur Asing’ dimukimkan di areal tertentu, yang disparasikan dengan warga etnik asing lain maupun warga etnik pribumi. “Oleh sebab itu klaster bagi etnik asing ini menjadi areal permukian yang ‘inklusif’, di dalamnya tumbuh pernak-pernik sosio-budaya,” paparnya.

Dengan cara demikian, Pemerintah Kolonial bakal lebih mudah untuk dapat melakukan kontrol terhadap mereka dan kemungkinan terjadinya ‘bentur sosial’ dengan etnik lain bisa diminimalkan.

Menurutnya, untuk keperluan pemantauan dan pengamanan internal keberadaan klaster-klaster sosial itu memang memudahkan, namun disisi lain terjadi ‘pengkotak-kotakan’ yang tidak sejalan dengan azas ‘pembauran’ dan memungkinkan terjadinya inklusifitas dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena luas klaster sosial terbatas, maka pertumbuhan demografis di kalangan mereka tak terelakkan menyebabkan sebagian dari anggota warga enik perantau untuk tinggal di luar klaster sosialnya semula, dengan musti hidup bersama di tengah permukiman warga etnik pribumi, sehingga pembauran antar etnik pun tercipta.

“Pecinan merupakan kalster yang dinamis dalam arti luas. Sebaran dan aktifitas sosial-budaya warganya dinamik dari waktu ke waktu. Kendati terjadi perubahan, namun ada yang konstan, yaitu menjadikan perdagangan sebagai basis ekonomi oleh sebagian besar warga Tionghoa perantau,” terangnya.

Sementara itu luas arealnya cenderung meluas. Begitu pula lokasi tinggalnya, yang terbukti tak hanya mau “dikurung” di suatu tempat, namun mampu menembus batas area tinggal yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda via strategi segregasi sosial. (ica/udi)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA