Yang Tersisa dari Daerah Segregasi Pecinan

  • 08-10-2018 / 17:30 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:abdi
Yang Tersisa dari Daerah Segregasi Pecinan MENJAGA KEASLIAN: Pintu hotel Alimar yang besar dan tinggi serta ventilasi yang dibuat setinggi atap dengan sistem jendela buka tutup. (ipunk/mp)

Kepala Seksi (Kasi) Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Agung H Buana mengatakan, hingga saat ini kawasan Pecinan ditetapkan sebagai salah satu kawasan Herittage Kota Malang.

Menurutnya, Disbudpar bahkan sudah membuatkan sebuah singnage kawasan Pecinan tepat di jalan masuk Jalan Pasar Besar Kota Malang. Hal ini diberi Pemkot Malang sebagai tanda kepada warga bahwa mereka memasuki kawasan heritage Pecinan Kota Malang.

Kawasan Pecinan, lanjut Agung, memang lebih dikenalkan dari konsep sejarah peleburan budayanya. Pasalnya, kehidupan warga etnis Tionghoa dan warga lokal masih dapat dilihat di kawasan Pecinan, khususnya di kawasan Pecinan Kecil (Jalan Wiro Margo).

“Ada event Festival Pecinan yang kerap diselenggarakan disana selama dua tahun berturut-turut sebelumnya. Ini sangat didukung pemerintah, karena warga masih terlihat kepeduliannya menginbat kembali sejarah yang ada disana,” terangnya.

Di kawasan itu juga, kata Agung, terdapat Makam Mbah Wiro, sesepuh warga lokal yang dimakamkan di lokasi pemukiman Tionghoa. “Beberapa jenis makanan dan minuman juga mengalami percampuran termasuk Kue Moho disana,” tandasnya.  

Agung menambahkan, saat ini kawasan Pecinan memang sudah berkembang pesat. Meski begitu ia mengakui peninggalan seperti rumah-rumah kuno zaman tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai banyak berubah. Akan tetapi masih ada yang masih bisa dilihat dan menjadi daya tarik wisatawan yang mencari nuansa heritage Kota Malang. “Ada beberapa rumah pecinan peranakan yang masih bertahan salah satunya Hotel Alimar Pasar Besar,” tuturnya.

Menurut pantauan Malang Post, kawasan Pecinan juga ada di kawasan Jalan Sutan Syahrir Gang Kesatria, juga masih dapat ditemukan bangunan khas Pecinan zaman dulu. Beberapa rumah yang sudah tidak berpenghuni menunjukan ciri tersebut. Yakni rumah nomor 44 dan 48 yang masih terlihat sangat kuno strukturnya. Terlihat memiliki dua gerbang pintu, yang paling luar berbentuk dua belah sisi pintu dengan ukiran yang kemudian menghubungkan dengan pintu utama di belakangnya.

Selain itu dideretan gang ini masih terlihat beberapa rumah berasitektur kuno yang terlihat sedikit direnovasi. Meski begitu masih terlihat warisan zaman kolonial di lihat dari bentuk jendela yang masih menggunakan engsel jendela besi berukir. (ica/udi

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA