Melantai Di BEI, Saham Emiten Ini Langsung Meroket 50 Persen

  • 11-10-2018 / 13:58 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
Melantai Di BEI, Saham Emiten Ini Langsung Meroket 50 Persen Melantai Di BEI, Saham Emiten Ini Langsung Meroket 50 Persen (Jpc)

JAKARTA - Perusahaan penyewaan alat berat PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/OPO). Perusahaan ini tercatat menjadi emiten ke 45 yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia tahun ini.

Superkrane mencatatkan seluruh sahamnya dengan porsi kepemilikan publik sebanyak 300.000.000 atau sebesar 20 persen dari jumlah modal disetor dan ditempatkan.

Dalam debut perdananya, saham SKRN langusng melesat sebesar 50 persen ke level menjadi Rp 1.050 per lembar saham dari harga penawaran perdana yang seharga Rp 700 per lembar saham.

“Hal ini merupakan key milestone dalam perjalanan Superkrane untuk melangkah sebagai perusahaan publik yang accountable, transparan dan bertanggungjawab kepada seluruh investor, masyarakat dan seluruh stakeholders dalam menjalankan bisnis kedepan”, kata Presiden Direktur Superkrane Yafin Tandiono Tan, din gedung BEI Jakarta, Kamis (11/10).

Pihaknya optimis, dana yang dihimpun dari masyarakat melalui proses IPO ini akan mendorong pertumbuhan dan pengembangan bisnis Superkrane sehingga semakin baik dimasa yang akan datang

PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN), mengincar kontrak sebesar USD 100 juta hingga 2021. Kontrak itu berasal dari beragam sektor, seperti migas, infrastruktur, dan pertambangan.

"Saat ini, kami sudah mengantongi kontrak USD 40 juta dari dua perusahaan migas dan pertambangan. Jumlah ini ditargetkan terus bertambah hingga tiga tahun ke depan dan menjadi motor pertumbuhan pendapatan," tuturnya.

Sebagai informasi, tahun ini pendapatan Superkrane ditargetkan mencapai Rp 600 miliar, naik 25 persen dari 2017 sebesar Rp 480 miliar. Tahun depan, dia menegaskan, perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 20 persen menjadi Rp 720 miliar dari estimasi 2018.

Hal ini didorong masih kuatnya permintaan sewa crane dari sektor migas, infrastruktur, hingga pertambangan. Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 600 miliar pada 2017 dan 2018. Seluruh dana capex dialokasikan untuk membeli crane dan alat berat lainnya. (mys/JPC/bua)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA