Korban Mulai Angkat Bicara

  • 11-10-2018 / 22:35 WIB - Editor: marga
  • Uploader:irawan
Korban Mulai Angkat Bicara DESAK: Maria Purwodati di depan ruko miliknya menuntut agar jaksa serius menangani korupsi bangunan yang diklaim milik Pemkot Malang. (FINO YUDISTIRA/MALANG POST)

MALANG- Korban sekaligus pelapor kasus dugaan kongkalikong aset Jalan BS Riyadi 129 Oro-Oro Dowo, Maria Purbowati, 42, warga Bareng Klojen, angkat bicara. Kepada wartawan, Maria mendesak Kejari Kota Malang untuk serius menangani kasus yang merugikannya miliaran rupiah.

“Saya harap Kejari tegas, serius melanjutkan kasus ini,” kata Maria kepada wartawan saat melihat aset 129, yang diduga aset Pemkot Malang tapi menjadi aset privat kemarin. Maria datang ke lokasi aset ruko yang sudah tersegel sembari memberi keterangan kepada awak media tentang permohonannya kepada kejari.

Dia mendesak tindakan tegas dari Kejari karena mendengar adanya penangguhan dua tersangka kasus tersebut, yakni Leonardo Wiebowo Soegio, 31, dan Natalia Christiana, 47. Menurutnya, rumor penangguhan itu merugikan karena dia sebagai korban sudah tekor sebanyak Rp 3 miliar untuk aset tersebut.

“Saya dengar ada penangguhan dua tersangka, ini tentu merugikan saya sebagai korban. Saya rugi Rp 3 miliar dari ruko ini. Saya ketipu, karena aset ini ternyata aset pemerintah. Saya berharap masyarakat aware dan ikut mengawal kasus ini juga agar keadilan ditegakkan,” jelas Maria.

Dia merinci, satu kavling aset 129 ini dibelinya secara tukar guling dengan Candra Heri Saputra, pemilik tiga deret ruko tersebut. Dia menukar guling aset ruko dengan sebuah rumah di Jalan Wijaya Kusuma. Sementara itu, Kajari Kota Malang, Amran Lakoni SH mengatakan status tersangka masih tersemat pada dua orang tersebut.

Meski demikian, Amran mengakui ada tiga sertifikat yang dikembalikan kepada negara. Tiga sertifikat ini yang diduga direkayasa agar menjadi aset privat. “Tiga sertifikat diserahkan oleh istri dan ibu dari tersangka Leonardo. Ada empat sertifikat sebenarnya, tapi yang satu masih di tangan orang lain,” kata Amran.

Sertifikat ini secara otomatis menjadi barang bukti sitaan, yakni nomor 1612, 1613 dan 1614. Sementara, sertfikat 1606 masih belum diterima Kejari. Dia menegaskan kasusnya tidak akan mandeg. “Yang penting aset sertifikat ini kembali, tinggal satu belum. Kami yakinkan, proses kasus ini terus berjalan,” tutupnya.

Sementara itu, pihak Ikatan Notaris Indonesia (INI) menganggap penangkapan terhadap Natalia Christiana adalah kriminalisasi terhadap profesi notaris. Penasehat hukum INI, Dr Dea Tunggaesti SH MM, mempertanyakan posisi notaris Natalia tidak seharusnya adalah tersangka. 

“Terkait pasal yang disangkakan adalah tindak pidana korupsi tentang perubahan aset negara menjadi milik pribadi, apa peran notaris? Dapatkan notaris

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA