Jokowi Batalkan Kenaikan BBM, Anak Buah Mega Sebut Itu Teorema Bias

  • 12-10-2018 / 09:07 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
Jokowi Batalkan Kenaikan BBM, Anak Buah Mega Sebut Itu Teorema Bias Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menegaskan, sebetulnya pemerintah bukan ragu-ragu dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Karena, keputusan mendadak itu diambil karena ada urgensi lainnya. (jpnn/jpc)

JAKARTA- Setelah membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium secara tiba-tiba, muncul opini bahwa  Presiden Joko Widodo (Jokowi) lemah dalam berkordinasi dengan menterinya. Sehingga dianggap tidak terjadi keselarasan dalam memutuskan sebuah kebijakan.

Menanggapi itu, Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menegaskan, sebetulnya pemerintah bukan ragu-ragu dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Karena, keputusan mendadak itu diambil karena ada urgensi lainnya.

"(Pemerintah) bukan plin-plan. Kalau dalam teori statistik itu namanya teorema bias," ujar Hendrawan di komplek DPR RI Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (11/10).

Teori bias yang dimaksud Hendrawan bukan berarti ketidakjelasan, melainkan berubahnya keputusan bila ada informasi baru yang signifikan dan bisa mempengaruhi perubahan kebijakan itu.

Hendrawan menuturkan, informasi signifikan itu terkait likuiditas PT Pertmanina (Persero). Selama Pertamina mampu melakukan kreasi-kreasi dengan membuat produk campuran yang masih memungkinkan untuk dilakukan maka pembatalam kenaikan harga BBM menjadi wajar.

Di sisi lain, anggota Komisi XI DPR RI itu menolak anggapan jika batalnya kenaikan harga BBM karena Presiden Joko Widodo ingin menjaga popularitasnya dan mencari simpati masyarakat.

"Kalau ingin pertahankan popularitas, awalnya tidak akan ada niat untuk naikkan (harga BBM) dong. Jadi logikanya tidak begitu," tegasnya.

Begitu pun jika pembatalan kenaikan harga BBM ditujukan hanya untuk menarik simpati publik agar kembali mendukung Jokowi. Menurutnya kenaikan harga Premium itu semata-mata imbas dari naiknya harga minyak mentah dunia.

"Itu spekulasi atau asumsi yang terlalu jauh saya kira. Harga minyak di dunia sudah naik. Sekarang mendekati USD 83-88 per barel," tandasnya.(sat/JPC/bua)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA