Harga Beras Mahal Petani Tak Menikmati, Apa Yang Salah?

  • 12-10-2018 / 16:49 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
Harga Beras Mahal Petani Tak Menikmati, Apa Yang Salah? Ilustrasi penjualan beras di tingkat pengecar di pasar tradisional (FEDRIK TARIGAN/JPC)

JAKARTA - Kenaikan harga beras dinilai belum berimbas pada peningkatan kesejahteraan petani. Ruwetnya mata rantai perdagangan beras mengakibatkan petani tidak menikmati hasil produksi beras yang dijual dengan harga tinggi.

Pengamat Indef Enny Sri Hartati mengatakan, kesejahteran petani bergantung dari berapa hasil yang diterima petani dibandingkan dengan harga produksinya.

“Meski dibilang harga gabah atau beras naik, tetapi kalau tidak mampu meng-cover biaya yang dikeluarkan, kan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Nggak usah (bicara) kesejahteraan lah, minimal keuntungan petani,” ujarnya kepada JPC, Senin (8/10).

Menurut Enny, tingginya harga beras belum mampu mengangkat kesejahteraan petani karena faktor produktivitas dan perdagangan petani. Meski harga beras yang dijual di pasar tinggi, tak akan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan petani karena produktivitas petani rendah.

“Jika produktivitas dari rata-rata 4-5 ton, atau bahkan masih ada yang 3 ton, bisa didorong naik jadi 10 ton per hektare, baru berpengaruh,” imbuhnya.

Produktivitas yang tinggi, kata Enny, dapat didukung dari kualitas benih yang bagus, edukasi serta pendampingan terhadap petani untuk melakukan pengelolaan sawah yang tepat. Misalnya hal yang teknis dari pertanian dalam mengantisipasi hama atau mempertahankan kesuburan.

“Pemerintah mengklaim petani diberikan subsidi benih. Kalau benih tadi tidak cocok dengan unsur hara yang terjadi seperti anak-anak Stunting itu. Subur tapi tak berproduktif menghasilkan bulir padi yang tidak banyak karena produktivitas rendah. Atau juga bahkan mudah diserang Hana sehingga justru berdampak produktifitas rendah,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah berasumsi pemberian subsidi pupuk akan mengurangi biaya petani. Padahal, kenyataannya di lapangan pupuk itu sendiri tidak pernah diterima petani pada saat dibutuhkan.

“Kenyataannya kan tidak. sehingga akhirnya yang terjadi harga produksi memang naik, HPP di level petani naik akan berdampak pada harga yang harus dibayar oleh konsumen. Tetapi kalau ceritanya seperti itu, sekalipun harga beras naik, tetap tidak meningkatkan daya beli petani. Karena tetap saja nggak untung,” jelasnya.

Selain itu, polemik disparitas harga petani dengan konsumen sangat tinggi. Hal tersebut tidak menguntungkan kedua belah pihak. Artinya, petani tidak menikmati keuntungan dari kenaikan harga beras, yang diterima hanya seolah-olah ada kenaikan padahal tidak dinikmati apalagi di level konsumen.

“Buntungnya lagi di level produsen atau petani itu sekaligus net konsumer ketika dia masa panen. Betapa menderitanya petani. Jadi sebagai produsen dia nggak untung, lalu harus membeli beras

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA