Puasa Sarana Meningkatkan Kesalehan Individual

  • 23-05-2018 / 00:41 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:irawan
  • dibaca:503
Puasa Sarana Meningkatkan Kesalehan Individual

Bulan Ramadan sering disebut sebagai syahrul tarbiyah (bulan pendidikan), syahrul jihad (perjuangan fisik), dan syahrul mujahadah (penempaan spiritual). Bulan latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, yang dipicu oleh cipta, rasa, karsa, yang mewujud dalam laku manusia. Sebulan penuh dilatih berpantang makan, minum, dan melakukan kemaksiatan baik maksiat fisik maupun maksiat hati, yang dimulai sejak adzan Subuh hingga adzan Maghrib.

Di bulan ini pula, seorang muslim dilatih dengan laku atau tindakan memperbanyak amal saleh, meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah, juga amal sosial kepada sesama makhluk sebagai bentuk pengejawantahan trilogi hablun minallah, hablun minannas dan hablun minal 'alam (hubungan kepada Allah, manusia dan alam) sebagai sarana mewujudnya rahmat Allah untuk seluruh isi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Dogma puasa merupakan sarana untuk mencapai level ketakwaan yang lebih tinggi. Istilah lain takwa adalah saleh. Kesalehan yang berarti kebaikan adalah ritual seseorang kepada-Nya untuk menuju kebahagiaan spiritual.

Mendiang Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) pernah mengatakan, semua ibadah di dalam rukun Islam itu memiliki dimensi sosial. Saleh individual saja tidak cukup untuk membentuk masyarakat berperadaban unggul. Artinya, takwa yang pada mulanya hanya urusan individual, harus diwujudkan menjadi gerakan moral dan sosial (moral and social force).

Dengan demikian, puasa yang merupakan salah satu instrumen untuk menciptakan ”melodi” kesalehan individual hanya akan bernilai jika berevolusi menjadi tanggung jawab sosial; memiliki sensitivitas terhadap permasalahan masyarakat luas, tak terkecuali memberi manfaat bagi non-Muslim di sekitarnya.

Posisi puasa semestinya justru hadir sebagai penggilas budaya pragmatisme, korupsi, materialisme dan budaya negatif lainnya. Namun karena puasa sering kali dipahami dan dilakoni sebagai ritual formalistik legal belaka, maka apa yang disebut sebagai substansi misi dari puasa itu pastilah tidak akan tercapai. Semestinya puasa mampu membebaskan paham determinasi material yang hedonis lalu menjadi momen kedatangan sikap saleh terhadap tatanan sosial yang ada. Puasa haruslah berdimensi transendental yang akrab dengan hubungan humanistis. Orang yang berpuasa semestinya sadar dan memahami bahwa rasa lapar dan dahaga serta penahanan keinginan yang ada padanya sebagai wujud untuk memahami dan merasakan keberadaan orang yang mungkin mengalami hal yang demikian itu.

Melalui perubahan persepsi tentang puasa ini, diharapkan akan melahirkan puasa yang benar-benar menciptakan komunitas yang sadar akan kepedulian sosial dimana ia berada. Rangkaiannya adalah dengan memahami

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA