Proxy War Jadi Musuh Ulama ke Depan

  • 28-10-2018 / 21:12 WIB - Editor: marga
  • Uploader:irawan
Proxy War Jadi Musuh Ulama ke Depan KHUSYUK: Ratusan kiai, gus dan puluhan ribu santri larut dalam Kabupaten Malang Bersalawat di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu malam. (HARY SANTOSO/MALANG POST)

MALANG- Getaran Ilahiah Kabupaten Malang Bersalawat (KMB) membius puluhan umat muslim se-Malang Raya, Sabtu (27/10) malam, di Lapangan Parkir Kanjuruhan Malang. Mereka dipandu langsung puluhan kiai dan gus dari berbagai pesantren di Jatim.

Diantaranya dari Kediri, Blitar, Pasuruan, Tulungagung, Sidoarjo, Probolinggo. Lebih menarik lagi, diantara  yang hadir warga Sumbermanjing Wetan yang tergabung dalam Gabungan Remaja Islam (Garis), mengerahkan 1.000 santrinya.

“KMB ini merupakan hasil kerja bareng sejumlah organisasi Islam di Kabupaten Malang untuk menjaga NKRI tetap jaya,”  ungkap KH Agoes Machsum Faqih (Gus Maksum), pe­ngasuh Ponpes (PP) Langitan Tuban.

KMB 2018 didukung  Nahdatul Ulama, Dewan Masjid, Forum Santri Nasional (Forsana) dan juga Pemkab Malang. Acara diawali Habib Abdurahman Baraqbah, pimpinan Khodimul Majelis Riyadlul Jannah.

“Kami mengingatkan umat muslim menjaga persaudaraan di tengah perbedaan yang kian meruncing akhir-akhir ini.  Sebagai bangsa yang dikaruniai keberagaman, marilah kita bersyukur dengan menjadikan keberagaman sebagai harmoni,” kata pencetus hastag #2019TetapBersaudara tersebut.

Karenanya, sebagai negara dengan penganut muslim terbesar di dunia umat Islam Indonesia harus bisa menjaga keutuhan NKRI. Apalagi Republik Indonesia lahir dari hasil perjuangan yang membutuhkan korban jiwa, raga hingga materi.

“Tantangan yang kita hadapi nanti akan semakin berat. Kita pasti akan mampu menghadapi jika bersatu padu.  Siapapun kita, apa pun suku dan golongannya, kita semua adalah anak-anak ibu pertiwi,” tegasnya.

KH Anwar Iskandar, pengasuh PP Al Amin Kediri sebagai pembicara terakhir mengingatkan, peran umat Islam sebagai generasi penerus yang wajib menjaga NKRI. ‘’Dulu, karomah ulama dan kiai atas izin Allah SWT bisa mengusir penjajah,’’ paparnya.

Sedang ulama saat ini maupun di masa mendatang, punya tantangan menghadapi musuh tak terlihat.  ‘’Inilah proxy war. Perang yang tidak terlihat tapi bisa menggerus NKRI dan umat Islam,” katanya.

Acara KMB sangat menarik perhatian warga Kepanjen dan sekitarnya. Saking besarnya animo peserta, sampai-sampai lalu lintas di kota Kepanjen, padat merayap. Sejumlah ruas jalan, utamanya akses menuju ke Stadion Kanjuruhan macet, sejak maghrib.

Di lapangan sendiri sudah disiapkan satu panggung besar dan megah. Panggung besar yang jadi pusat perhatian, terasa sempit ketika puluhan ulama memimpin lantunan salawat kepada Nabi Muhammad SAW. (has/mar)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA