Desa Kekeringan Tambah Lima

  • 01-11-2018 / 23:52 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:hargodd
Desa Kekeringan Tambah Lima Polsek Donomulyo bersama relawan DTC ketika mendistribusikan air bersih pada warga yang kekeringan, menggunakan mobil tangki milik Polres Malang, kemarin. Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, ketika mengukuhkan Satgas Bhayangkara Siaga Bencana (foto kanan). (AGUNG PRIYO/MALANG POST, grafis: hargodd, tem/mp)

MALANG-Jumlah desa di Kabupaten Malang yang mengalami krisis air bersih, ternyata bertambah. Sebelumnya ada 9 desa, kali ini bertambah lima desa dari Kecamatan Donomulyo. Di wilayah itu, dari 10 desa, ada 7 wilayah yang kekeringan. Salah satu yang terparah adalah Desa Purwodadi. Warga masih antre air bersih dan terpaksa memangkas jadwal mandi untuk menghemat persediaan air.
Di desa ini, ada tiga dusun yang terdampak kekeringan. Yakni Dusun Purworejo Kidul, Purwodadi Krajan serta Sidorejo. Selama empat bulan terakhir, lebih dari 300 kepala keluarga (KK) kesulitan untuk mendapat air bersih. 


“Sudah berlangsung empat bulan ini. Kalau mau mendapatkan air bersih, harus jalan kaki ke sumber sejauh sekitar 1 kilometer. Itupun jalan menuju sumber adalah jalan setapak,” ungkap Tukiyun, warga Dusun Purworejo Kidul, Desa Purwodadi. 
Begitu sampai di lokasi sumber, lanjut pria berusia 60 tahun ini, tidak langsung mendapatkan air. Karena harus antre, sebab banyak warga lainnya yang juga mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. 
“Antrenya bisa berjam-jam, karena air sumbernya juga kecil. Biasanya antre sejak siang, namun baru mendapat giliran malam,” ujarnya. 
Pernyataan yang sama juga disampaikan Jenjem (47 tahun) dan Markini (68 tahun), warga lainnya. Mereka selama berbulan-bulan ini juga mengalami kesulitan air bersih. Jangankan untuk mandi, dibuat kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak dan mencuci saja kesulitan. 
“Sejak sulit air bersih, kami mandi sehari hanya sekali, kadang juga tidak mandi. Padahal ketika air sumur tidak kering, mandi bisa tiga kali sehari,” ucap Jenjem, sembari mengatakan untuk mandi harus hemat air. 
“Untuk cuci pakaian juga tidak bisa setiap hari. Sejak sulit air bersih, mencuci pakaian seminggu hanya dua kali. Itupun harus menuju ke sumber di sungai yang jaraknya cukup jauh,” sambung Markini. 
Lain halnya dengan Sulami (46 tahun), warga lainnya, yang terpaksa harus membeli air bersih pada pengepul. Ia membeli air karena tidak ada bantuan air, dan tidak memungkinkan untuk pergi ke sumber. Seribu liter air bersih, dibeli dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. 
“Saya sudah tujuh kali membeli air. Seribu liter, bisa cukup untuk seminggu itupun harus irit,” katanya. 
Teguh Sujianto, Ketua Donomulyo Trail Community (DTC), mengatakan tujuh desa di Kecamatan Donomulyo, yang mengalami kekeringan adalah Desa

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA