Kisahkan Santri, Mading SMANUR Juara

  • 04-11-2018 / 23:16 WIB - Editor: vandri battu
  • Uploader:irawan
Kisahkan Santri, Mading SMANUR Juara KEKUATAN IDE: Peserta kompetisi Mading 3D MSC 2018 SMA An-Nur Bululawang (SMANUR) juara kreasi mading dan konten.

MALANG- Digarap secepat kilat, mading milik tim asal SMA An-Nur Bululawang (SMANUR), Kamis (1/11) lalu menjadi mading terapik dan mendapat predikat juara pertama. Mading yang dikerjakan hanya empat hari itu berhasil memikat juri dan memperoleh nilai tertinggi pada kompetisi Mading 3D MSC 2018. 

Dikerjakan enam orang, mading 3D ini menarik perhatian karena mengangkat tema anti mainstream. Yakni The Best Survivor oleh santri. 

Karya ini sekilas menceritakan tentang kehidupan para santri yang berjuang untuk menuntut ilmu, tak hanya wawasan umum, tapi juga wawasan teknologi dan agama.

Guru pendamping SMA An-Nur Bululawang, Irfan Days Saputro, S.Pd, mengatakan, jiwa survivor juga ada dalam kehidupan pesantren. Menurutnya kehidupan santri itu tidaklah mudah dan butuh banyak perjuangan. “Menuntut ilmu di pesantren itu nggak mudah. Selain itu proses adaptasi santri yang notabene dari berbagai daerah juga nggak gampang. Proses dalam kehidupan santri membutuhkan jiwa survivor atau pejuang,” jelasnya.

Untuk menggambarkan perjuangan kehidupan santri, tim SMANUR membuat miniatur aktivitas-aktivitas santri. Di antaranya menggambarkan aktivitas santri seperti salat berjamaah, mengaji, kerja bakti, dan masih banyak miniatur-miniatur lainnya. 

Miniatur tersebut dibuat menggunakan bahan utama kardus bekas. “Kalau bahan pendukungnya seperti karung semen, parutan kelapa yang kita sulap jadi rumput, dakron untuk pohon, kawat, dan masih banyak lagi,” sambungnya.

Tak lupa selama pengerjaan ia selalu mengingatkan anak didiknya untuk tidak mengabaikan konten. Layout mading 3D memang penting, namun isi dari artikel juga menjadi sesuatu yang harus diunggulkan. “Saya lihat mereka bikin artikel sederhana, tapi bahasanya rapi dan tertata. Saya yakin dari awal kalau tema ini beda dari yang lain,” lanjutnya.

Proses pengerjaan karya ini cukup singkat, mulai dari 25- 28 Oktober 2018. Dengan waktu sesingkat itu, Irfan sempat ragu dengan hasil maksimal yang akan dicapai. Namun melihat semangat anak-anaknya yang membara, Irfan menghilangkan pesimisme. “Mereka sampai rela izin nggak ikut KBM kelas mulai jam ke tiga. Bahkan menjelang hari H, anak-anak mengerjakan mading setelah diniyah (21.00) sampai tengah malam di perpustakan sekolah,” ceritanya.

Saat memasuki Graha Cakrawala UM, Irfan dan murid-muridnya sempat tertegun dengan karya-karya sekolah lain. Ia melihat banyak sekali karya dengan layout yang luar biasa kreatif. Akan tetapi sejak awal panitia telah menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya dari segi fisik, tapi juga intrinsik artikel.

Dengan keyakinan

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA