Raih Penghargaan UMKM Terbaik Bidang Makanan dan Minuman

  • 08-11-2018 / 23:29 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:irawan
Raih Penghargaan UMKM Terbaik Bidang Makanan dan Minuman BINA PETANI: Wahyu Eko Purwanto juga membina petani lokal Batu.

Kopi saat ini menjadi salah satu minuman yang memiliki daya tarik kuat di Malang Raya. Setiap daerah memiliki hasil produk kopi yang khas, tak terkecuali di Kota Batu. Salah satu warga Kota Batu yang giat memperjuangkan eksistensi tanaman kopi adalah Wahyu Eko Purwanto. Kota yang dipimpin Wali Kota Dewanti Rumpoko itu, memiliki tiga jenis kopi. Yaitu kopi Arjuno, Songgiriti dan kopi Panderman. 

Tiga jenis kopi tersebut, sudah pasti semuanya adalah kopi arabica. Pasalnya tanaman yang berbuah dan baru bisa dipanen setahun sekali itu dirawat pada ketinggian diatas 1000 Mdpl. Sehingga hasil kopi yang didapatkan lebih pada rasa asam atau acid. Kota Batu sendiri, secara demografis memiliki ketinggian antara 1.000-2.000 Mdpl.

Bagi petani kopi di kota berjuluk De Kleine Zwitserland, kopi menjadi harapan yang harus terus diperjuangkan. Terlebih lagi, kini kopi menjadi komoditas berbagai kalangan. Namun, sebaliknya menjadi petani kopi tidak semudah seperti menyesapnya. Begitu juga untuk menyeduh kopi yang nikmat di lidah banyak orang.

Founder Pringgitan Coffee sekaligus petani kopi, Wahyu Eko Purwanto warga Jl. A.Ghonaim No.49, Bumiaji, Kota Batu merupakan salah satu orang yang melihat banyak manfaat dari bertani, meracik hingga memasarkan kopi. Bahkan ia juga mengedukasi petani kopi agar tetap bertahan untuk menghasilkan kopi unggulan khas Kota Batu.

Di kebun seluas 4 hektar yang masuk dalam kawasan Desa Giripurno dan Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji ia memulai terjun bertani kopi sejak tahun 2014. Tak hanya itu, ia juga mengedukasi dan mendampingi petani kopi untuk bisa mengangkat ekonomi mereka. Pasalnya banyak dari petani kopi yang merugi saat panen karena tidak tahu cara perawetan dan pengolahan yang baik.

“Edukasi kepada petani kopi sangat penting. Karena kita tahu, kopi saat ini menjadi komoditas sehari-hari. Karenanya jangan sampai kopi terbaik dari daerah masing-masing kalah bersaing dengan kopi pabrikan,” urai Wahyu kepada Malang Post mengawali ceritanya.

Ia menjelaskan, kopi khas masing-masing wilayah sebenarnya malah dicari dan memiliki harga yang cukup mahal. Namun, sejali lagi ia menekankan ada proses panjang yang harus dilalui. “Nah proses itulah yang tidak diketahui oleh bayak petani konvensional. Sehingga harga jual tidak sesuai dengan biaya perawatan dan tenaga yang dikeluarkannya,” imbuhnya.

Dengan daerah Kota Batu yang berada di ketinggian di atas 1.000 Mdpl. Diungkap bapak dua anak

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA