Sosialisasi LPG, Pertamina Minta Ibu-Ibu Jangan Jadi 'Pelakor'

  • 09-11-2018 / 09:41 WIB - Editor: buari
  • Uploader:buari
Sosialisasi LPG, Pertamina Minta Ibu-Ibu Jangan Jadi 'Pelakor' Elpiji subsidi (Dery Ridwansyah/jpc)

BALIKPAPAN – Dukung pemerintah dalam upaya penyaluran LPG tepat sasaran, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) VI Kalimantan laksanakan serangkaian program sosialiasi. Kali ini di hadapan 180 Ibu-ibu peserta seminar “Smart Woman“ yang diselenggarakan oleh Smart FM Balikpapan yang mengusung tema “Pelakor Semakin Ngetrend: Bagaimana Wanita Smart Menyikapinya”. Kegiatan berlangsung di Ballroom Swiss Bell Hotel Balikpapan, Kamis (08/11)

Region Manager Communication & CSR Pertamina Kalimantan Yudi Nugraha menyatakan kegiatan sosialisasi ini sudah menjadi agenda rutin guna semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya Ibu Rumah Tangga dalam memilih jenis LPG yang tepat.

Namun, pemilihan tema Pelakor alias Perebut Laki Orang ini tentu menjadi keunikan tersendiri. Yudi berpendapat Pelakor merupakan fenomena yang cukup meresahkan karena mengambil hal yang bukan menjadi hak nya. Jika disambungkan dengan penggunaan LPG, kenyataan di lapangan pun juga masih menunjukan adanya ibu-ibu kelas menengah bahkan atas yang masih menggunakan LPG subsidi.

“Sama halnya dengan Pelakor yang mengambil hak rumah tangga orang lain, ibu-ibu mampu yang masih pakai LPG 3 Kg pun telah mengambil hak orang miskin. Hal ini harus diluruskan agar Pelakor Miskin alias Pengambil LPG Hak Orang Miskin dapat beralih ke LPG non subsidi,” kata Yudi dalam keterangan resmi.

Apalagi sesuai Peraturan Presiden No. 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG 3 Kg telah diatur secara jelas peruntukan produk LPG 3 Kg sebagai barang subsidi yang selayaknya menjadi acuan bagi masyarakat.

“Sesuai dengan judul acara ini yaitu Seminar Smart Woman, Ibu-ibu jaman now juga harus smart dalam memilih jenis LPG. Jangan sampai dalam kegiatan masak-memasak sehari-hari atau bahkan operasional usaha, ibu-ibu kelas menengah ke atas malah mengambil jatah LPG orang miskin,” kata Yudi.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan berdasarkan Peraturan Presiden tersebut yang juga diperkuat oleh UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil & Menengah dan Peraturan Menteri ESDM No.26 Tahun 2009 tentang penyediaan dan pendistribusian LPG, sudah jelas dinyatakan bahwa hanya masyarakat miskin dan usaha mikro yang berhak menggunakan LPG 3 Kg atau yang juga populer dengan sebutan gas melon. Sayangnya, fakta di lapangan masih menunjukan adanya pengguna LPG yang masih belum menyadari pentingnya memilih produk LPG sesuai peruntukannya.

Sebagai contoh di Kota Balikpapan, pada medio 2018 telah

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA