Malang Tempo Dulu Lenyap?

  • 28-11-2018 / 23:28 WIB - Editor: rosida
  • Uploader:irawan
Malang Tempo Dulu Lenyap?

Malang begitu me­nawan dengan barisan bangunan nuansa Be­landa di daerah Ijen. Apalagi jika di sana diadakan festival ja­doel. Sebagaimana gagasan Dwi Cahyono, penggagas Festival Malang Tempo Dulu, yang telah menjadi festival tahunan di Kota Malang sejak 12 tahun yang lalu (2006).

Ada banyak sekali kegiatan edukasi di Festival Malang Tempo Dulu ini. Mulai dari sejarah masuknya kerajaan Hindu-Buddha, Kerajaan Islam, bahkan kedatangan Belanda dan Jepang. Di sana juga dipajang berbagai macam pistol dan senjata lainnya. Diceritakan pula di sana, tentang bagaimana berbagai kronologis kejadian penting pada waktu itu.

Sayangnya, Festival Malang Tempo Dulu tidak berjalan mu­lus menjadi festival tahunan se­perti yang sudah direncanakan. Festival ini mulai terhambat pe­lak­sanaannya sejak 7 tahun yang lalu (2011). Ada banyak masalah yang timbul, mulai dari masalah internal dan eksternal.

Pada tahun 2013, sang penggagas Dwi Cahyono mencalonkan diri sebagai Wali Kota Malang. Hal itu mungkin menyibukkannya sehingga kurang bisa mengurus Festival Ma­lang Tempo Dulu se­perti biasanya. Apalagi waktu itu, pelaksanaan pil­kada dengan pelaksanaan Malang Tempo Dulu sangat dekat yakni di bulan yang sama. Sehingga, pada tahun 2013 Festival Malang Tempo Dulu diadakan 2 tahun sekali, dan diadakan kembali pada tahun 2014.

Festival Malang Tempo Dulu sempat kembali simpang siur pada tahun berikutnya (2014). Pada akhirnya festival tersebut tetap dilaksanakan walaupun tidak 2 hari seperti biasanya. Namun hanya 1 hari pada tanggal 2 Mei 2014. Dengan mengambil tema “Satoes Akoe 100 Lakoe” festival ini menampilkan banyak panggung. Pada tahun ini, jalan Ijen tidak ditutup seperti biasanya, sehingga para PKL sulit untuk dikendalikan.

2014 adalah tahun terakhir ba­gi Festival Malang Tempo Du­lu. Setelahnya, festival yang ka­tanya tahunan ini jarang atau bah­kan tidak disorot kembali. Apa mungkin Bapak Dwi terlalu kecewa dengan kekalahannya di pilkada tahun 2013 silam? Sehingga beliau tidak ingin mengadakan festival tahunan ini lagi? Tetapi hal itu hampir mustahil. Dilihat dari kecintaan beliau dengan sejarah dan arkeologi. Beliau telah memiliki sebuah museum sejarah pribadi di Malang. Ia bahkan tak cuma-cuma mengeluarkan Rp1,5 miliar demi Museum Malang Tempo Dulu nya tersebut.

Lalu, apakah karena telah ada­nya museum tersebut, Festival Malang Tempo Dulu ditiadakan? Kalau hal tersebut memang terjadi, tidak mungkin festival tahunan tersebut begitu disorot oleh warga Kota Malang. Museum

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA