Minta Maaf, Pembelaan Jadi Curhat

  • 06-12-2018 / 00:39 WIB - Editor: vandri battu
  • Uploader:abdi
Minta Maaf, Pembelaan Jadi Curhat MENYESAL: Mantan anggota DPRD Kota Malang kroscek bukti pengembalian uang suap di depan JPU KPK. Syaiful Rusdi masih menangis usai membacakan pledoinya di Pengadilan Tipikor Surabaya, kemarin.(M Firman/Malang Post)

SURABAYA- Hujan air mata di ruang sidang Pengadilan Tipikor Surabaya kemarin. Para mantan anggota DPRD Kota Malang meneteskan air mata, meratapi akhir kisah tragis mereka sebagai wakil rakyat setelah tersangkut kasus suap.

Cerita menjadi seorang single parent, tak bisa memakamkan orang tua saat meninggal hingga kehidupan berakhir tragis menjadi cerita emosional dalam pledoi para mantan dewan itu.

Tangisan kecil, air mata menetas hingga isakan tangis keras terdengar saat satu persatu dari para terdakwa itu. Mereka berusaha mencari pembelaan melalui pledoi yang dibacakan satu per satu dan penasehat hukum.

Saiful Rusdi adalah salah satu mantan anggota DPRD Kota Malang yang tak kuat sembunyikan sedihnya.  Ia meluapkan perasaan sedih bercampur sesal saat membacakan pembelaannya di hadapan majelis hakim dan jaksa dengan menangis sejadi-jadinya.

"Saya tidak sangka kerja menjadi pengabdi masyrakat selama 17 tahun harus berakhir tragis seperti ini," ucapnya lirih. Ia menangis sembari menceritakan sebelum menjadi anggota dewan berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Kota Malang selama 17 tahun 3 bulan.

Saiful menceritakan sempat terpilih sebagai guru teladan dan telah membuat buku soal pengajaran pendidikan. Kembali, saat hendak melanjutkan membacakan pembelaannya, pria kalem ini mengatakan dirinya kooperatif dan telah mengembalikan uang pengganti yang dituntut jaksa meski belum lunas.

Saiful pun kembali emosional. Ia menahan tangis berkali-kali hingga pembacaan pledoinya tersendat-sendat. Meski begitu dia tidak dapat menahan tangisnya terus menerus dan kembali meluapkan tangisnya di tengah pembelaannya. Hingga akhirnya tidak dapat melanjutkan pembelaannya.

"Saudara jika tidak kuat, sudah tidak apa-apa. Pembelaan tertulisnya diberikan saja nanti pasti akan jadi bahan pertimbangan kita. Sudah pak kalau tidak kuat," kata salah seorang anggota majelis hakim menyela karena Saiful terus menerus menangis.

Meski begitu Saiful sempat melanjutkan sedikit materi pembelaannya. Ia meminta majelis hakim mempertimbangkan apa-apa saja yang telah dilakukan untuk masyarakat saat menjatuhkan vonis.

Selain Saiful Rusdi, pembacaan nota pembelaan yang mengundang perhatian adalah dari Yaqud Ananda Gudban. Meski tidak seemosional Saiful Rusdi, selama kurang lebih setengah jam Nanda, sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban menjabarkan kurang lebih 13 poin kejanggalan dalam proses sidangnya. Nanda membacakan sendiri poin-poin tersebut dimulai dengan poin terkait rapat informal ketua dewan bersama para ketua fraksi dan Ketua Komisi C terkait pembahasan penggantian pokir dengan uang.

"Bahwa saya dalam

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA