Babat Habis Tanaman Kopi, Per Hektar Panen 30 Ton Per Tahun

  • 07-12-2018 / 00:03 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:abdi
Babat Habis Tanaman Kopi, Per Hektar Panen 30 Ton Per Tahun PIONEER: Boiran Sutiono menjadi petani salak yang pertama mengembangkan budidaya salak organik di desanya. (STENLY REHARDSON/MALANG POST)

Mengunjungi Kebun Salak Organik di Kecamatan Dampit

Selama ini, Kecamatan Dampit terkenal sebagai wilayah penghasil kopi di Indonesia. Ternyata, salah satu kecamatan di sisi timur Kabupaten Malang itu juga dikenal menjadi penghasil Salak Pondoh. Di Desa Sukodono. Kini, sudah banyak warga mulai menanam salak dengan cara organik, yang tidak menggunakan zat kimia untuk penanamannya.

Banyak kelebihan dari bertani dengan sistem organik tersebut, salah satunya adalah meningkatkan kuantitas panen bagi para petani dengan model penanaman biasa. Malang Post mengunjungi kebun salak milik Boiran Sutiono. Salah satu pelopor kebun salak organik di Sukodono, yang kini dipercaya menjadi Ketua Kelompok Tani Kopi Sari Sukodono. Banyak anggotanya mulai berbudidaya salak organik. Tidak hanya panen meningkat, tampilan kebun yang bersih dan rapi pun tersaji ketika memasuki area kebun salak bersertifikat prima tersebut.

Penanaman organik, adalah cara untuk bertani tanpa menggunakan bahan kimia. Sehingga, salak hasil panen lebih sehat dan tahan lama karena tanpa menggunakan zat kimia dari pupuknya. Sebagai gantinya, pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan (pupuk kandang) yang diolah dengan batuan zeolit. Zeolit memiliki kandungan mineral yang akan membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Boiran kali pertama menanam salak pondoh secara organik tahun 2002. Namun, kala itu masih belum ada yang percaya dengan metode penanaman tersebut, bisa meningkatkan kuantitas panen. "Awalnya, ya saya seorang diri. Saya sudah berkebun salak sejak 1990, saat pindah ke Sukodono ini. Tetapi, sejak 2002 saya memilih memakai cara organik," ujar Boiran.

Ia mulai menggunakan pupuk organik, setelah mendapatkan pengetahuan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL). Ia mendapatkan makalah tentang berkebun salak dengan cara organik.

Boiran lantas belajar, bagaimana membuat pupuk organik sendiri. Sebab, bahan-bahan untuk membuat pupuk organik, yang pas untuk budidaya salak, mudah didapatkan di wilayahnya. "Paling yang agak susah yang pesan batuan zeolit. Pesannya dari Tuluangung. Kalau pupuk kandang, di daerah sini mudah," paparnya.

Ketika tidak ada yang percaya atau bahkan ragu, dia tetap tekun menanam salak secara organik. Awalnya, hanya 250 meter persegi atau separuh dari luas kebun salaknya. Namun, saat panenan meningkat, dia membabat tanaman kopi di sisa ladangnya. Semua berubah menjadi salak pondoh organik.

"Hampir 10 tahun ini semua sudah jadi kebun salak. Sudah tidak punya kebun kopi," beber pria yang berasal

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA