Semarak Anniversary VI Glutera Ala Bollywood

  • 29-04-2018 / 00:40 WIB - Editor: Muhaimin
  • Uploader:irawan
  • dibaca:446
Semarak Anniversary VI Glutera Ala Bollywood Sebanyak 800 penariĀ  memperingati Hari Tari dengan menari nonstop mulai jam 10.00 sampai jam 22.00 WIB di Matos (Dicky Bisinglasi/Malang Post)

MALANG- Perayaan Hari Tari Dunia dimeriahkan dengan tampilan 800 penari yang tampil nonstop di trotoar Malang Town Square (Matos) dan Hall Main Entrance dan Grand Hall Matos.  Penyelenggara Acara Dwi Cahyono mengungkapkan, perayaan hari tari dunia semacam ini baru pertama kalinya digelar di Kota Malang.

 

Mereka menari mulai dari jam 10 pagi sampai dengan jam 22.00 nonstop."Kalau di Indonesia ini sudah ke sepuluh kalinya dan biasanya digelar di Solo dan Jogjakarta. Namun di Kota Malang baru kali pertama ini," papar Dwi kepada Malang Post, kemarin.

 

Ia melanjutkan, kali ini perayaan Hari Tari Dunia serentak dilakukan di empat kota, yakni Surakarta (Solo), Jogjakarta, Padang Panjang dan Kota Malang. Ini karena pihaknya mengajukan Kota Malang untuk ikut serta meramaikan.

 

Menurutnya, acara semacam ini diharapkan menjadi barometer bahwa tingkat apresiasi dan partisipasi Kota Malang terhadap seni tinggi. "Kami ingin menunjukkan bahwa Kota Malang juga sejajar dengan Jogja dan Solo dalam tingkat apresiasi," imbuhnya.

 

Lebih lanjut kata dia, pihaknya menyuguhkan berbagai genre tarian dari seluruh dunia, seperti tradisional, modern, Hip-Hop, K-Pop Dance, kontemporer, dan masih banyak lainnya. Peserta tari diikuti dari berbagai komunitas maupun sanggar Tari.

 

"Hari Tari Dunia memang semua gerak. Semua umur, semua genre dan semua etnis ikut di sini," papar pendiri Yayasan Inggil ini.

 

Selain itu, ada juga pameran foto dari perayaan Hari Tari Dunia pada tahun lalu yang diselenggarakan di Jogjakarta dan Solo. Salah satu foto menunjukkan Presiden RI Joko Widodo mengikuti tarian topeng. "Tahun ini Kota Malang harus bisa ikut pameran juga dari acara yang pertama kali ini," tegasnya.

 

Ditambahkannya, ini merupakan salah satu cara penyelamatan budaya. Diharapkannya masyarakat tidak hanya mengenal bangunan sebagai cagar budaya. Namun juga adat istiadat, kuliner dan bahasa yang perlu diselamatkan. "Penyelamatan tidak hanya tradisional saja. Namun kreatifitas yang menggambarkan kekayaan budaya. Di sini masyarakat bisa membandingkan macam-macam tarian secara langsung," tambahnya. (mg6/aim)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA