Tuhan, Manusia, dan Plastik

Tuhan, Manusia, dan Plastik

Oleh M. Fakhruddin Al-Razi

Mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang Alumni PP. Nurul Jadid.

 

Keterkaitan antara alam dan manusia ternyata tidak sesederhana seperti yang dipikirkan. Manusia bukan hanya sebagai penghuni alam dan alam bukan sekadar tempat tinggal manusia. Lebih dari itu, ada suatu hubungan yang sangat esensial antara keduanya. Bahwa manusia selain menjadi penghuni alam, mereka juga memiliki peran sebagai pemelihara alam. Dalam bahasa yang lebih tinggi manusia adalah wakil Tuhan di bumi atau yang biasa AlQuran sebut dengan kata khalifah.

Namun yang terjadi bisa dikatakan sebaliknya. Eksploitasi dan penjarahan alam secara besar-besaran dilakukan. Dengan dalih untuk kemajuan peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai infrastruktur dibangun di atas tanah. Hutan-hutan dilibas dan gunung-gunung dikeruk, bahkan lautan juga dibor. Di satu sisi, selain memang kamajuan meningkat pesat namun ada hal lain yang luput dari pandangan manusia. Kesenjangan mereka terhadap alam semakin melebar. Maka bukan kenapa kualitas hidup mereka semakin hari semakin berkurang.

Selain dilihat dari kebahagiaan, kualitas hidup manusia juga bisa dilihat dari seberapa dekat mereka dengan sang Pencipta. Sebagai dua dzat antara pencipta dan makhluk maka bukan kenapa pastilah ada sebuah ikatan walau itu tidak kita rasakan langsung. Dapat dilihat dari ketika manusia jarang melakukan interaksi dengan Tuhan maka besar kemungkinan akan muncul kegelisahan walau seringkali tidak disadari. Ini yang biasa disebut dengan krisis spiritual pada diri manusia. Yakni munculnya keterpautan antara Tuhan dan pencipta.

Bukti kesenjangan manusia dengan tuhan salah satunya adalah adanya kesenjangan dengan alam dan lingkungan yang ujung-ujungnya akan berdampak pada hidup manusia itu sendiri. Sebab menjaga lingkungan adalah perintah Tuhan, maka bila lingkungan tidak dijaga otomatis kita melanggar perintah Tuhan. Di sanalah letak keterpautan kita dengan Tuhan setelah kita mengabaikan kondisi alam.

Seringkali, kita secara tidak sadar selalu menjadi bagian dari kerusakan-kerusakan alam meski secara kasat mata kita tidak melakukannya. Tidak usah jauh-jauh, contohnya saja dalam hal penggunaan plastik. Sudah berapa plastik kita gunakan dan kita buang yang kita tahu sendiri bahwa plastik sangatlah sulit diuraikan oleh bakteri-bakteri pengurai. Akan sangat membutuhkan waktu lama plastik bisa hancur seutuhnya. Sementara kita dalam keseharian selalu saja berkubang dengan bahan-bahan plastik.

Sekarang kita lihat, bagaimana plastik-plastik yang kita buang itu bisa merugikan lingkungan, bahkan pula merugikan

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA

CATATAN

MIMBAR JUMAT