Sering Keceplosan di Depan Mahasiswa

  • 12-01-2019 / 00:32 WIB - Editor: Bagus ary
  • Uploader:abdi
Sering Keceplosan di Depan Mahasiswa Irma Mufita atau Irma Moevitha

MALANG-Dosen dan master of ceremony (MC) adalah dua pekerjaan yang berbeda, namun memiliki tantangan yang nyaris sama. Sama-sama menghadapi audience dan mempersiapkan materi untuk disampaikan. Irma Mufita, dosen FISIP Komunikasi Universitas Negeri Malang sejak lima tahun lalu harus melakoni dua pekerjaan tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal itu menjadi rantangan tersendiri bagi Irma yang memiliki nama panggung Irma Moevitha tersebut. Sebab, ia harus pandai menempatkan diri, menjadi seorang dosen dan drastis berubah sebagai MC atau pembawa acara di hari yang sama.

"Iya itu tantangannya. Meski pekerjaannya nyaris sama, tetapi cara atau attitude yang saya bawakan harus berbeda. Dua-duanya asik," ujar Irma.

Saat menjadi MC, dia harus menguasai penonton dan materi acara yang dipimpinnya. Dia harus mengeluarkan jokes-jokes ringan agar bisa menghibur. "Nah saat jadi dosen, aku harus memosisikan diri sebagai pengajar. Harus tampil lebih formal dan jaga image," ungkapnya.

Pernah suatu ketika, aksinya tertukar. Saat dia di hadapan mahasiswa dan menerangkan mata kuliah, dia keceplosan layaknya sebagai pembawa acara televisi. "Saya sering memanggil dengan sebutan pemirsa. Hahaha. Ya karena basic saya kan awalnya pembawa acara televisi," tutur dia.

Akan tetapi, hal tersebut sudah berkurang. Apalagi, kini dirinya sudah nyaris enam tahun menjadi dosen program studi komunikasi. "Saya jadi dosen praktisi lima tahun. Dan sekarang sudah dosen tetap," papar dosen yang mengajar mata kuliah Media Penyiaran dan Jurnalistik Televisi tersebut.

Dia mengatakan, saat menjadi dosen dengan usia yang relatif masih muda, juga menghadirkan tantangan tersendiri. Magister Komunikasi Unitomo Surabaya ini harus menghadapi mahasiswa yang usianya tidak berbeda jauh dengan dirinya. Alhasil, selain jaga image, ia juga menjaga jarak agar tetap disegani.

Menurutnya, dia ingin disegani sebagai dosen. Sehingga, dia terkadang harus tetap ramah, meski beberapa mahasiswa menggodanya. "Pernah suatu saat,  waktu lewat ada yang memanggil 'bu dosen cantik'. Kebayang waktu itu, tidak tau siapa yang panggil di antara mahasiswa yang banyak duduk-duduk di sekitar kampus.  Antara malu, kesel, tapi mesti tetep ramah. Saya noleh sambil senyum, begitu saja," terang dia.

Malahan, saat teknologi kian modern dan media sosial marak, tidak sedikit yang berani menggodanya di Instagram. Awalnya komentar, tanya tugas namun ujungnya mengajak ngopi. "Makanya, kudu jaga image, jaga jarak. Supaya mereka bisa menghormati saya sebagai dosennya," tambah perempuan

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

BACA JUGA

CATATAN

MIMBAR JUMAT