Kelola Platform Makanan Sisa untuk Masyarakat Prasejahtera

  • 04-05-2019 / 02:34 WIB
  • Kategori:Ekonomi
Kelola Platform Makanan Sisa untuk Masyarakat Prasejahtera IST/MALANG POST PRESENTASI: Dari kiri ke kanan, Fara Fazira Noorani (FISIP 2018), Aza Nur Alisa (FISIP 2018), Ahmad Dani Alfaza (Vokasi 2018) dan tim juri dari I-SAIID 2019 usai mempresentasikan project sosial bertajuk Garbargain

Mengangkat isu ketimpangan ekonomi di Indonesia yang terbilang tinggi, lima mahasiswa Universitas Brawijaya Cemerlang di kancah internasional. Mereka adalah Aza Nur Alisa (FISIP 2018), Fara Fazira Noorani (FISIP 2018), Ahmad Dani Alfaza (Vokasi 2018), M. Alfan Mubarok (FILKOM 2018), dan Dziyaa’ Annaufal (FILKOM 2018).

Inovasi baru yang diusung oleh tim ini yakni dalam pengelolaan makanan sisa, namun layak konsumsi untuk didonasikan kepada masyarakat tidak mampu. Mereka mengusung GARBARGAIN: A Solution For PraProsperous Communities By Exchanged Garbage To Get The Suitable Leftover Food.

Hasilnya, para mahasiswa itu mampu membawa pulang medali emas dalam ajang International Student Affairs Invention, Innovation and Design Competition (I-SAIID) 2019 di Universitas Teknologi Mara Kedah Branch, Malaysia pada 26 - 27 Maret 2019 lalu.

Ketua Tim Aza Nur Alisa menyampaikan, GAR­BAR­GAIN merupakan suatu website yang dipergunakan sebagai platform mengelola makanan sisa, se­kaligus penggalangan dana bagi mereka yang membutuhkan.

“Tingkat ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat tinggi, di satu sisi banyak orang yang bisa makan berlebih tapi banyak pula yang kekurangan,” ungkap Aza.

Selain itu, banyak juga ditemui sisa makanan pada acara-acara besar seperti hajatan per­nikahan, bahkan makanan di hotel maupun restoran tak jarang terbuang sia-sia.

Melalui GARBARGAIN bisa mengatasi permasalahan tersebut serta mampu mengurangi sampah makanan sekaligus membantu masyarakat prasejahtera.

Berbentuk website, GARBARGAIN bisa menjangkau masyarakat di seluruh penjuru. Dengan masuk ke laman tersebut, pengguna akan mendapatkan pilihan donasi berupa makanan atau uang.

Untuk donasi makanan, pengguna akan diminta mengisi data dengan memasukkan nama, alamat, email, nomor telepon, serta keterangan tanggal dan jam makanan dimasak. Kemudian klik tombol submit. Sedangkan untuk donasi uang, pengguna dapat mentransfer ke rekening yang tertera di website pada bagian contact terlebih dahulu.

“Selanjutnya baru mengisi biodata diri serta jumlah donasi disertai bukti transfer dan terakhir klik tombol submit,” papar mahasiswi angkatan 2018 ini.

Donasi makanan sebelum didistribusikan diuji terlebih dahulu kelayakannya agar tetap sehat dan layak konsumsi. Pengujian dengan menggunakan kertas lakmus untuk menganalisis kadar keasaman.

Jika masih layak akan dipanaskan kembali kemudian dilakukan pengemasan ulang untuk kemudian didonasikan. Namun jika makanan sisa sudah benar-benar tidak dapat dikonsumsi, maka akan diolah menjadi pupuk.

“Hasil penjualan pupuk juga akan didonasikan kepada masyarakat kurang mampu,” tegas remaja berhijab ini.

Project sosial tim ini juga terinspirasi dari data ketimpangan ekonomi di Kota Malang yang terbilang paling tinggi di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang pada tahun 2017 rasio gini mengalami peningkatan menjadi 0,42 dari 0,41 pada tahun 2016.

Namun ide cemerlang tersebut sejauh ini masih dalam bentuk prototype belum sampai pada tahap aplikasi langsung ke masyarakat. Lantaran jika sudah berjalan maka diperlukan sinergi dengan lembaga terkait misalnya Dinas Kesehatan untuk menguji standar kelayakan makanan yang didonasikan. Serta Dinas Sosial untuk mendata keluarga miskin yang berhak menerima donasi.

Kelayakan suatu makanan sangat penting karena berkaitan dengan kesehatan pihak yang mengkonsumsi. Apabila asal mendistribusikan dikhawatirkan menimbulkan permasalahan baru.

Meski demikian lima mahasiswa UB ini berkomitmen untuk melanjutkan perjuangannya. Agar bisa memberikan manfaat riil kepada masyarakat Kota Malang, mengangkat kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Saat ini kami masih menyelesaikan LPJ ke pihak kampus dan fakultas, di sisi lain juga masih belum tahu bagaimana arah atau prosedur berikutnya untuk mengembangkan website ini,” jelas Aza.

Usai mendapatkan medali emas, mereka masih tidak menyangka kerja kerasnya diganjar apresiasi luar biasa. Terlebih dalam kompetisi internasional itu diikuti oleh 15 negara lainnya seperti Thailand, China, India yang membuat nyali tim ini sedikit menciut.

Tim GARBARGIAN mendapat medali emas pada kategori inovasi dan terpilih menjadi yang terbaik dari 130 karya. Sementara pada kategori invention diikuti oleh 19 tim dan 19 tim kategori desain.

“Dari UB sendiri ada 20 tim yang berangkat, tapi Alhamdulillah inovasi kami diganjar medali emas,” tandasnya.(Linda Epariyani/ary)

Editor : Ary
Uploader : angga
Penulis : lin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU