Belajar dari Koperasi SBW Malang Jawa Timur

Beromzet Rp 73 M, Punya Aplikasi SBW Mobile

  • 12-07-2019 / 01:46 WIB
  • Kategori:Ekonomi
Beromzet Rp 73 M, Punya Aplikasi SBW Mobile Dra Sri Untrai MAP

KOPERASI menghadapi berbagai tantangan zaman. Karena itu harus cepat beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip berkoperasi. Seperti yang dilakukan Koperasi Setia Budi Wantia (SBW) Malang Jawa Timur. Kadar kepercayaan publik terhadap koperasi ini terus meningkat. Sederet prestasi pun telah diraih.

Capaian prestasi terbaru diraih Kamis (11/7) tadi malam di Purwakarta, jelang Hari Koperasi 12 Juli hari ini. Koperasi SBW Malang Jawa Timur dinyatakan masuk dalam 20 besar koperasi terbaik di Indonesia. Penghargaan itu diraih lewat Forum Koperasi Besar Indonesia (FKBI).  
Koperasi yang terkenal karena sistem tanggung renteng ini memang jadi contoh.  Saat ini memiliki 9.560 anggota. Omzetnya sampai dengan Juni 2019 mencapai Rp 73 miliar. Sedangkan per Juni 2018 lalu Rp 63 miliar.
Ketua Umum Koperasi SBW Malang Jawa Timur, Dra Sri Untrai MAP mengatakan, capaian dan kepercayaaan masyarakat itu karena berbagai inovasi yang dilakukan. “Koperasi harus berinovasi menjemput peradaban tapi tidak meninggalkan prinsip berkoperasi,” katanya tentang cara memajukan koperasi. 

Untari mengatakan inovasi mengelola koperasi harus sesuai kondisi masyarakat. Ia lantas mencontohkan, ponsel saat ini tak hanya digunakan untuk berkomunikasi. Karena kemajuan teknologi, HP menjadi multifungsi. Digunakan untuk belanja dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup.

Karena itu koperasi dalam melayani anggota harus mengikuti zaman, berbasis teknologi IT. Kami sejak beberapa waktu lalu sudah memiliki sistem layanan berbasis aplikasi,” jelas perempuan penggerak koperasi ini.

Ia lantas menyebut SBW mobile. Aplikasi ini dibenamkan dalam ponsel anggota Koperasi SBW Malang Jawa Timur dan pengurusnya. Cukup dalam genggaman dengan memencet ponsel, anggota Koperasi SBW Malang Jawa Timur bisa memenuhi kebutuhan mereka. 

Kami juga memiliki website dan pelayanan belanja online serta media sosial. Kami menyadari media sosial sedang digandrungi masyarakat. Karena itu, koperasi juga harus hadir di sosial media,” papar Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim ini.

Inovasi yang dipaparkan Untari itu hanyalah sebagian kecil dari berbagai strategi pengembangan koperasi yang selama ini dilakukannya. Menurut dia, koperasi juga harus berada di semua segmen masyarakat. Terutama kelas menengah ke atas yang belum banyak berkoperasi. 

Menghadapir revolusi industri 4.0 menuju 5.0, kita memiliki tantangan yang tidak ringan. Yakni bagaimana koperasi menjadi jawaban atas dinamika masyarakat, di mana masyarakat ingincepat dilayani secara private, cepat danmurah,” papar Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim itu.

Sementara sebagai salah satu lembaga ekonomi rakyat yang ideologiskoperasi tetap mempertahankan nilai kebersamaan, solidaritas dan gotong royongKarena itu, kehadiran koperasi harus diperhatikanmulai dari aspek sistem, SDMdan struktur kelembagaan.
Begitu pun kebijakan pemerintah berpihak ke koperasi. Bagaimana itu diwujudkan?katanya. Jawabannya lanjut Untari, koperasi memiliki wadah Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Lembaga tersebut haruslah optimal  sesuai tiga fungsinya, yakni fungsi edukasi, fungsi fasilitasi dan advokasi. 

“Dekopin harus memaksimalkan tiga fungsi itu untuk memberdayakan seluruh anggotanya. Anggotanya punharus menyokong  pergerakan Dekopin sepenuhnya, disamping itu pemerintah harus memberi pengayoman dan menjadi mitra strategis agar Dekopin ini optimal dalam gerakan koperasi Indonesia,” urai Untari.  Sebagai otokritik, Wakil Ketua Dekopinwil Jatim ini mengatakan, koperasi belum mampu menjawabberbagai tantangan. Itu karena masih banyak masalah di bidang SDM, sistem dan struktur kelembagaan. Akibatnya banyak koperasi yang ambruk dan mati.

“Koperasi yang bertahan saat ini koperasi yang tahan uji dan dipercaya masyakat. Contohnya SBW karena memiliki kepercayaan yang tinggi dari anggotanya. Ini karena menerapkan prinsip dasar berkoperasi,yakni dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota,” jelas  penasehat Dekopinda Kota Malang ini.

Dalam membangun bisnis dan melayani anggota, SBW tetap menerapkan nilai-nilai koperasi. Sehingga memiliki tata kelola koperasi yang baik. “Kami mengikuti tata kelola koperasi yang dilaksanakan melalui manajemen koperasi berbasis nilai-nilai. Artinya mengelola koperasi berdasarkan nilai-nilai dasar koperasi,” jelasnya.

Persoalan yang menyelimuti koperasi lain selaam ini karena hanya mengurus bisnis tapi tidak melakukan pendidikan anggota. Padahal salah satu prinsip dasar koperasi yakni pendidikan anggota. 

“Anggota harus dicerdaskan agarmampu menjalankan fungsi kontrol terhadap manajemen koperasi. Anggota menjadi kekuatan tersendiri yang membuat koperasi tetap ada. Karena anggota punya tiga fungsi di koperasi, yakni sebagai pemilik, sebagai pelanggan dan pemeran serta,”papar dia. 

Kalau tiga fungsi dasar ini dimiliki anggota, lanjut Untari, maka mempu menjalankan fungsi-fungsi kontrol. Sehingga konsepepsi koperasi dari, oleh dan untuk anggota menjadi nyata adanya.

Ia mengingatkan, jika koperasi tidak mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai berkoperasi, maka koperasi bisa saja ditinggalkananggota. “Di saat merayakan Hari Koperasi, saya berpesan agar koperasi mengikuti zaman sehingga selalu dicari anggotanya,” pungkasnya. (van) 

Editor : van
Uploader : angga
Penulis : Vandri Battu
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU