Inflasi Kota Malang 0.41 Persen, Kelompok Mamin dan Tembakau Penyumbang Utama

  • 03-02-2020 / 19:35 WIB
  • Kategori:Ekonomi
Inflasi Kota Malang 0.41 Persen, Kelompok Mamin dan Tembakau Penyumbang Utama Kepala BPS Kota Malang, Drs. Sunaryo merilis inflasi Kota Malang bulan Januari 2020.

Malangpostonline.com – Januari 2020 Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0.41 persen, penyumbang utamanya adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebanyak 0.3339 persen. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Drs. Sunaryo pada Senin (3/2).

Kelompok penyumbang inflasi Kota Malang terbesar lainnya adalah perumahan, air, listrik dan bahan bakar lainnya dengan jumlah 0.0602 persen. Kemudian disusul kelompok perawatan pribadi dan lainnya dengan angka 0.0303 persen.

“Inflasi pada bulan Januari di Kota Malang terbilang rendah bila dibandingkan dengan Jawa Timur yang sebesar 0.50 persen, jadi bulan ini kami menggunakan diagram timbang yang baru berdasarkan hasil Survey Biaya Hidup (SBH) 2018 dan digunakan untuk lima tahun kedepan,” ujar Sunaryo.

Hasil tersebut berdasarkan 11 kelompok pengeluaran penyebab inflasi salah satunya kelompok makanan, minuman dan tembakau. Sementara dari segi komoditas terdapat 10 komoditas penyumbang inflasi terbesar seperti kenaikan harga cabai rawit, rokok kretek filter, cabai merah, daging ayam ras, emas perhiasan, rokok kretek dan lainnya.

Di sisi lain tariff kontrak rumah di Kota Malang yang terus mengalami kenaikan juga memberikan andil penyumbang inflasi. Selain itu juga harga emas perhiasan turut andil sebesar 0.0293 persen dalam menyumbang inflasi  di kelompok perawatan pribadi dan lainnya.

“Sedangkan 10 kelompok yang memberikan pengaruh dominan terhadap deflasi adalah turunnya harga bensin, telur ayam ras, harga makanan ringa, sabun detergen, susu cair kemasan, udang basah, ayam hidup dan kopi bubuk,” urainya.

Inflasi tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya peralihan pola konsumsi masyarakat Kota Malang tercermin ada 91 komoditas baru dan 82 komoditas yang hilang karena tidak memberi pengaruh terhadap nilai konsumsi. Komoditas baru tersebut di antaranya adalah aksesoris HP, lantaran saat ini menjadi 10 besar dan kedua adalah tariff kendaraan online.

“Pola konsumsi yangkami lihat juga berdasarkan potret komoditas terkini. Selanjutnya komoditas yang dihilangkan adalah DVD atau VCD Player, pembasmi nyamuk bakar serta biaya puskesmas,” tandas Sunaryo.

Di Jawa Timur terdapat 8 kota mengalami inflasi, tertinggi adalah Sumenep sebesar 0.84 persen dan terendah Madiun 0.35 persen. Di Malang sendiri komoditas utama yang menyumpang inflasi paling besar adalah cabai rawit lantaran harganya mengalami kenaikan sebesar 44.72 persen. (lin)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

 

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU