Keseriusan Erick Thohir Pangkas Jumlah BUMN Dipertanyakan

  • 07-02-2020 / 14:54 WIB
  • Kategori:Ekonomi
Keseriusan Erick Thohir Pangkas Jumlah BUMN Dipertanyakan

malangpostonline.com- Sejumlah ekonom mempertanyakan keseriusan Menteri BUMN Erick Thohir memangkas jumlah perusahaan pelat merah dari saat ini sebanyak 140 menjadi sekitar 100 BUMN.

Ekonom Core Indonesia Piter Abdullah, misalnya, menyebutkan Erick belum menjawab pertanyaan utama terkait wacana pemangkasan perusahaan BUMN. Yaitu, mekanisme pemangkasan dan tolak ukur perusahaan BUMN yang mana saja yang dapat dipangkas.

"Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mekanismenya? BUMN mana yang mau ditutup? Contohnya, bank BUMN ada 4. Apa Erick Thohir berani merger?" ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/2).

Baca Juga: Bank Minta 6,34 Juta 'Catatan Utang' Nasabah Lewat SLIK OJK

Ia mengingatkan pemerintah untuk bersikap bijak terkait pemangkasan perusahaan BUMN. Hal ini dikarenakan peran BUMN sebagai kepanjangan tangan pemerintah di pasar.

Ambil contoh, Bulog yang mendistribusikan beras, dan Krakatau Steel yang memproduksi baja. Menurut Piter, kedua perusahaan ini merupakan BUMN strategis yang meskipun rugi, tetap harus dipertahankan.

Peneliti ICW Firdaus Ilyas melanjutkan tanpa standar dan tolak ukur yang jelas, maka langkah penyelamatan BUMN menjadi mustahil. Alih-alih menyelamatkan BUMN, ia malah khawatir kebijakan terkait hanya akan mengakomodasi gerbang kekuasaan.

"Yang mesti dibenahi ya di hulu. Regulasinya, tata kelola, standarnya. Road map (peta jalan) BUMN ini seperti apa sih? Jangan nanti politik lagi," terang dia.

Pemangkasan BUMN, sambung Firdaus, hanya satu dari berbagai cara penyehatan yang mungkin ditempuh. Namun, ia mengingatkan kebijakan apapun yang ditempuh tidak akan efektif jika tidak disertai judgement bisnis yang tepat.

Kelola Uang Besar

Menurut Piter, pemerintah terutama harus memperhatikan BUMN yang mengelola keuangan dalam jumlah besar, seperti sektor energi, pertambangan, perbankan, asuransi, dan jasa keuangan lainnya, termasuk juga konstruksi.

"Perbankan, asuransi, jasa keuangan, uangnya besar. Tata kelolanya rentan salah," kata Piter.

Di sektor keuangan sendiri, terdapat perusahaan BUMN, seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN, termasuk non bank, seperti Asuransi Jiwasraya, Jasa Raharja, Askrindo, Jamkrindo, dan Jasindo, serta manajer investasi Danareksa.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan Kementerian BUMN akan mengurangi jumlah BUMN dari 140 perusahaan saat ini menjadi hanya 100 perusahaan. Hal ini dilakukan agar kinerja BUMN lebih efisien dan efektif.           

Selain memangkas jumlah perusahaan, pemerintah akan mengevaluasi anak dan cucu perusahaan BUMN yang tidak sesuai dengan bisnis inti induk perusahaan pelat merah.

(wel/bir/cnn/bua)

 

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : bua
Uploader : MG
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU