Facebook dan Instagram Kembali Hapus Jutaan Akun Palsu

  • 14-11-2019 / 21:52 WIB
  • Kategori:Techno
Facebook dan Instagram Kembali Hapus Jutaan Akun Palsu

Malangpostonline.com - Facebook sebut telah menghapus 3,2 juta akun palsu dalam enam bulan terakhir, terhitung sejak April hingga September 2019. Selain itu, Facebook mengklaim akun palsu di platformnya hanya sekitar 5 persen dari total 2,45 miliar pengguna.

Angka ini naik dua kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya. Tahun lalu, Facebook mengaku telah menghapus 1,5 juta akun palsu. Namun, dalam laporan kali ini Facebook ikut menyertakan penghapusan akun yang dilakukan di Instagram.

Perusahaan itu juga menyebut telah menghapus 18,5 juta akun yang melakukan eksploitasi seksual terhadap anak-anak. Angka ini naik dari penghapusan 13 juta akun terkait eksploitasi seksual terhadap anak-anak yang dilakukan enam bulan sebelumnya.

Facebook juga membuat kategori baru terkait konten yang haram di platformnya. Tahun ini konten bunuh diri dan melukai diri sendiri masuk dalam konten berbahaya. Antara April-September, Facebook telah menghapus lebih dari 1,6 juta konten bunuh diri dan melukai diri sendiri di Instagram.

Facebook juga telah menhapus 11,4 juta konten terkait ujaran kebencian. Pada periode sebelumnya, perusahaan ini juga telah menghapus 7,5 juta konten serupa. Tak cuma berdasarkan laporan, Facebook juga menyebut mereka telah menghapus konten ujaran kebencian secara proaktif. 

Menurut Facebook, peningkatan ini dilakukan terkait dengan makin canggihnya sistem pendeteksian perusahaan itu. Facebook mengklaim penghapusan akun dilakukan sebelum mereka menjadi pengguna aktif di media sosial. Konten ujaran kebencian ini terkait dengan konten ekstrimis, eksploitasi anak, dan isi konten lainnya, seperti dilaporkan CNBC.

Facebook juga telah memperluas data yang dijaring terkait konten terorisme dan propaganda. Pada laporan sebelumnya, Facebook hanya memasukan data terkait dengan al-Qaida, ISIS, dan afiliasinya.

Facebook telah membuat sejumlah langkah agar bisa lebih transparan atas keputusan penegakan hukum mereka. Hal ini dilakukan setelah skandal pemilihan Presiden AS 2016 terkait Cambridge Analytica terungkap.

Sejak saat itu Facebook mendapat kecaman keras karena dinilai gagal mencegah interferensi pemilu di platformnya. Termasuk kegagalan menyebar informasi yang salah. (eks/cnn/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU