Direktur Sirkuit Buriram: MotoGP Indonesia Harus Lebih Baik

  • 07-10-2019 / 12:50 WIB
  • Kategori:All Sport
Direktur Sirkuit Buriram: MotoGP Indonesia Harus Lebih Baik Direktur Sirkuit Buriram Tanaisiri Chanvitayarom mengaku MotoGP Thailand memperlihatkan dampak positif.

MALANGPOSTONLINE.COM -  Direktur Pelaksana Sirkuit Internasional Buriram, Tanaisiri Chanvitayarom, berbagi masukan soal rencana Indonesia menjadi tuan rumah salah satu seri MotoGP 2021.

Gelaran tersebut rencananya akan diselenggarakan di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan tipe sirkuit jalanan.

Secara penyelenggaraan maupun fasilitas, dia berharap penyelenggaraan MotoGP Indonesia bisa lebih baik dari seri-seri lainnya, termasuk MotoGP Thailand.

Berikut wawancara eksklusif Tanaisiri:

Ada saran untuk rencana gelaran MotoGP Indonesia berdasarkan sukses gelaran MotoGP Thailand?

Sirkuit di Indonesia nanti adalah balapan jalanan. Saya rasa antara balapan jalanan dan sirkuit [permanen] sangat berbeda. Saya tidak tahu apakah syarat-syarat [teknis] sirkuit jalanan akan sama dengan permanen.

Namun, saya pikir hal yang sama secara umum adalah soal [mengorganisasi] para fan. Sebab, kami harus mempertimbangkan ajang balapan sesuai standar asosiasi internasional seperti keselamatan, marshall, kondisi, dan sistem.

Untuk hal-hal pendukung seperti jaringan internet, pengawasan balapan, harus menjadi pertimbangan utama juga karena ini level tertinggi di Komisi Keselamatan.
 

Apa lagi yang perlu diperhatikan?

Soal promosi untuk mempromosikan ajang balapan. Sebenarnya Indonesia terkenal memiliki fan Valentino Rossi yang sangat banyak, dan tentu saja Marc Marquez juga. Dengan demikian, para fan juga harus benar-benar diperhatikan karena banyak orang yang akan datang menyaksikan balapan.

Ini soal benar-benar melayani para fan, memilih soal lokasi yang tepat seperti grand stand sehingga menciptakan atmosfer yang luar biasa.

 

Atmosfer MotoGP Thailand termasuk bagus. Apa rahasianya?

Apa yang Anda lihat di MotoGP Thailand sekarang bukan hanya menggelar balapan, tapi gelaran lain di wilayah komersial juga. Kami menggelar selama tiga hari berturut-turut, pertunjukan malam mulai dari jam 01.00 pagi atau 02.00 pagi.

Kami juga menggabungkannya dengan kejuaraan nasional Thai Boxing di sini.

 

Bagaimana sinergi dengan pemerintah?

Semua fasilitas [terkait sirkuit dan penyelenggaraan] kami urus sendiri. Tapi tetap harus ada sinergi yang bagus dengan pemerintah dari level pusat hingga daerah. Sinergi kami di sini amat bagus. Anda harus benar-benar bekerja sama dengan pemerintah agar sukses mulai dari persiapan, transportasi, akomodasi seperti hotel. Hal yang sangat penting bekerja sama dengan pemerintah lokal karena contohnya Anda harus mempromosikan semua akomodasi.

Apalagi kami juga di sini memperkenalkan akomodasi home stay. Ini untuk memberdayakan ekonomi masyarakat lokal juga. Jadi ini peluang besar untuk membangun bisnis di masa-masa ini [gelaran MotoGP].

Tapi kami juga tidak bisa memaksakan mereka seperti harus mempercantik home stay, hotel-hotel, menyediakan mobil. Itu semua tergantung dari peluang bisnis yang tersedia.

 

Sirkuit jalanan di Mandalika bakal jadi yang pertama di MotoGP. Seberapa menantang dan apa saja peluangnya?

Tentu sangat menantang, tapi satu hal yang bagus tentang sirkuit jalanan adalah biasanya digelar di tengah-tengah kota [contoh Singapura dan Monaco]. Dengan demikian, fasilitas pendukung harus lebih baik dari di sirkuit biasa [permanen] seperti Buriram atau seri-seri lainnya. Karena lokasinya di dalam kota, seharusnya tersedia hotel-hotel, bar, restauran. Saya rasa jadinya akan seperti di Singapura.

 

MotoGP Thailand 2019 adalah yang kali kedua. Apa saja bagian tersulit ketika Buriram baru merencanakan MotoGP 2018 untuk kali pertama?

Yang paling sulit adalah persiapan karena MotoGP berada pada level tertinggi. Dengan demikian Anda seperti harus memiliki staf-staf dengan level yang sesuai. Makanya persiapan jadi yang tersulit.

Yang sulit lainnya adalah merancang rencana dari segi aspek komersial dalam hal ini memikirkan cara agar para penonton di dunia tertarik datang ke Buriram.

Pertanyaanya adalah kenapa mereka harus datang ke Buriram dari seluruh dunia dan ada yang lokasinya cukup jauh? Kenapa harus datang ke stan sirkuit di Buriram dengan udara yang amat panas? Sementara mereka saat ini masih bisa menyaksikan langsung dari layar kaca di kamar dengan AC.

Jawabannya adalah ciptakan atomsfer yang luar biasa. Harus banyak festival, banyak pertunjukan, dan banyak hal lainnya lagi, bukan hanya balapan itu sendiri.

 

Kenapa MotoGP Thailand di Buriram, bukan di kota-kota lain seperti Bangkok misalnya?

Kami bermarkas di Buriram, perusahaan kami [sponsor utama adalah Chang di Buriram] di Buriram. Jika Anda ingin membuat bisnis, tentu harus memilih lokasi yang benar-benar Anda pahami seperti dalam hal ceruk pasar. Kami bukan hanya merasakan market, tapi juga memahami [potensi] di sekitar sini. Buriram dekat dengan Kamboja, sekitar tiga jam [jalur darat]. Di selatan bahkan hanya 1 jam 30 menit. Di timur dekat dengan Laos, hanya tiga jam [jalur darat].

Jika misalnya Anda membuat sirkuit di Bangkok...karena kita tidak hanya bicara soal MotoGP, tapi sejumlah balapan untuk tahun-tahun ke depan. Jika Anda menyelenggarakan event seperti itu tidak di kota yang terlalu ramai dengan segala aktivitasnya, para fan tak akan terganggu. Misalnya jika Anda bicara Bangkok, banyak sekali acara di sana, ada konser dan lain sebagainya.

 

Bagaimana melihat sambutan orang-orang di Buriram soal MotoGP Thailand?

Setiap orang di Buriram sangat mendukung gelaran MotoGP di sini karena kami jadi ikut membangun daerah ini, memperkenalkan Buriram ke level dunia. Semua orang di sini juga mendapat banyak manfaat dengan ajang ini.

 

Bicara soal anggaran. Berapa besar sekali menggelar MotoGP?

Total biaya penyelenggaraan sekali event [MotoGP] di Buriram, kami mengeluakan uang sekitar 450 juta Baht [setara Rp209 miliar]. Itu sudah keseluruhan termasuk fee, operasional, dan lain-lain.

Namun, tahun lalu dampak [positif] ekonomi di Buriram dengan gelaran MotoGP [2018] itu sekitar 3 miliar Baht [Rp1,3 triliun]. Jadi itu hampir 10 kali lipat dari pengeluaran. (bac/ptr/cnn/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU