Arema Kalah Berdarah-Darah

  • 22-09-2018 / 23:02 WIB
  • Kategori:Arema
Arema Kalah Berdarah-Darah Alfin Tuasalamony menghadang Elisa Basna, di laga away Papua ini, Arema dikalahkan 1-0. (LIGA-INDONESIA.IG)

MALANG-Perjuangan Arema FC untuk bisa mendapatkan poin kala melawan tuan rumah Persipura Jayapura, Sabtu (22/9) kemarin, bukanlah hal mudah. Tim Singo Edan harus menghadapi permainan keras pemain tuan rumah dalam pertandingan di Stadion Mandala Jayapura tersebut. Bahkan, salah satu pemain Arema, Hendro Siswanto harus berdarah-darah dan kolaps di tengah lapangan, karena berbenturan kepala dengan Imanuel Wanggai.

Kondisi pemain asal Tuban itu terlihat mengerikan, karena selepas terjatuh kejang-kejang dan sesaat tidak sadarkan diri. Praktis, setelah keluarnya Hendro, permainan Arema berubah, dan cenderung dalam tekanan tuan rumah, terlebih setelah itu Hamka Hamzah dkk harus bermain dengan 10 pemain karena kartu merah yang diterima Israel Wamiau.

Pertandingan terlihat menakutkan. Bayang-bayang kolaps dan berujung pada meninggalnya almarhum Choirul Huda sempat terlintas bagi yang menyaksikan laga tersebut. Laga terhenti sekitar lima menit, selama menunggu perawatan Hendro di tengah lapangan.

Hendro terjatuh usai berduel mengheading bola dan akhirnya kepala sebelah kanannya bertabrakan dengan kepala sebelah kiri Manu Wanggai. Sialnya, kala terjatuh bagian kepala Hendro membentur tanah tanah cukup keras. Pemain Arema yang melihat kondisi tangan Hendro terangkat dan kaku serta terlihat membutuhkan pertolongan, langsung berlari mendekat. Terlihat Alfarizi dan Hanif Sjahbandi langsung berlari mendekat dan berusaha membuka mulut rekannya tersebut.

Dalam kondisi darurat, Alfarizi khususnya, tidak mau mengambil risiko dengan menunggu tim medis. Kebetulan, pemain Arema sempat mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan ketika melihat rekannya kolaps beberapa waktu lalu.

Dalam waktu yang sangat singkat, dokter tim Arema, dr. Nanang Tri Wahyudi juga langsung memberikan pertolongan. Diiringi dengan tim medis pertandingan, mereka berusaha menyadarkan Hendro. 

Setelah itu pemain, tim medis, official, banyak yang mengerumuni Hendro. Saat ambulan datang, Hendro mulai terlihat bisa menggerakkan kakinya. Dipastikan kondisi aman, Hendro dipapah menuju mobil ambulan, dengan darah mengucur deras dan membuat jersey-nya berlumurah darah.

Praktis, setelah kejadian itu, kondisi sulit menimpa Arema. Pelatih Milan Petrovic harus dengan cepat memutuskan, siapa pemain yang tepat menggantikan posisi Hendro yang dibawa menuju rumah sakit.

Tidak lama setelahnya, Israel Wamiau terkena kartu kuning kedua, yang artinya dia harus menerima kartu merah dan keluar lapangan. Bermain dengan 10 pemain, Arema akhirnya dalam tekanan.

Penalti kemudian diberikan wasit Mustofa Umarella, karena melihat adanya handsball dari Alfin Tuasalamony. Di menit 67, dengan tenang Hilton Moreira mengeksekusi penalti dan membuat Persipura unggul 1—0 atas Arema.

Arema berusaha membalas gol tersebut. Termasuk dengan upaya mengurung Tim Mutiara Hitam ketika pertandingan memasuki injury time selama enam menit. Tercatat ada enam bola mati, baik dari tendangan sudut maupun tendangan bebas di area pertahanan tuan rumah. Sayang, tidak ada satu gol pun tercipta bagi tim kelahiran 1987 tersebut.

Arema pun harus menerima kenyataan, mereka kalah dalam laga dengan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah tersebut.

Usai laga, Pelatih Arema, Milan Petrovic mengakui sedih dengan hasil pertandingan. Sebab, sekali lagi timnya kalah setelah sempat tampil mendominasi di babak pertama. Enam peluang, gagal menjadi gol dan hal tersebut menjadi faktor kekalahan  Arema.

"Tidak mudah untuk menjalankan pertandingan ini. Di babak pertama kami bermain bagus dan menguasai bola dan banyak peluang. Tetapi, seperti biasa jika tidak bisa mencetak gol maka itu problem bagi tim yang bermain bagus," ujar Milan.

Pelatih berpaspor Slovenia itu memang menargetkan timnya tidak hanya bermain bagus. Namun, dengan cepat bisa mencetak gol dan tidak mengulangi kejadian di markas Persib Bandung. Main bagus tetapi tidak ada gol tercipta dan akhirnya kalah.

Situasi semakin sulit di babak kedua. Kecelakaan pada Hendro, membuyarkan penampilan  rapi Arema. Usai peristiwa kolapsnya Hendro, adalah awal perubahan permainan.

"Bagi kami, kecelakaan itu sangat penting dan berpengaruh. Saya harus memutuskan dalam waktu satu menit untuk bisa melanjutkan pertandingan dengan kualitas pertandingan yang sama seperti babak pertama. Kami mencoba bermain yang sama, tetapi kenyataannya tidak bisa dan saya sedih dengan kejadian tersebut," jelasnya.

Menurut Milan, saat kejadian, diakui atau tidak, hal tersebut mengganggu fokus para pemain. Secara psikologis, dia menyadari jika rekan-rekan Hendro pun memikirkan nasib temannya dan nasib mereka saat melanjutkan laga.

"Mungkin setiap orang punya pandangan berbeda. Namun, saya melihat tim kaki tidak bisa melanjutkan laga dengan normal. Mungkin ada rasa takut akan ada kejadian seperti itu dan mereka was-was. Mereka mungkin berpikir bermain sepak bola risikonya menakutkan san mereka berhati-hati," terang dia.

Saat kondisi seperti itu, pemainnya menjadi susah mengontrol permainan.  Dia melihat anak asuhnya tidak bisa tampil lepas. "Selanjutnya kami terkena kartu merah dan penalti," tambahnya.

Akan tetapi, Milan enggan sepenuhnya menyalahkan peristiwa kecelakaan pada Hendro sebagai biang kekalahan. Sebab, menurutnya, jika saja Arema mencetak gol di babak pertama, mungkin keadaannya bakal berbeda.

"Sama, ini sama seperti di Bandung. Kami ingin mencetak gol, ada banyak peluang di babak pertama dan tidak bisa buat gol," tambahnya.

Sementara itu terkait kondisi Hendro Siswanto, dokter tim Arema, dr. Nanang Tri Wahyudi mengatakan, jika pemainnya sudah membaik. Usai mendapatkan perawatan dan jahitan di pelipis mata, pemain tersebut telah kembali ke hotel.

"Alhamdulillah kondisi saat ini sudah sadar. Kondisi juga sudah stabil dan terus menjalani pantauan dan perawatan di hotel," ujar dr. Nanang.

Menurut dia, Hendro mengalami gegar otak ringan. Akan tetapi, kondisi tersebut aman dan dr. Nanang meyakinkan jika Hendro terus mendapatkan observasi saat di hotel tempat tim menginap.

"Kami minta doanya saja kondisi Hendro terus stabil," tambah dia.

Hendro sendiri harus menjalani delapan jahitan di pelipis kanannya karena insiden kemarin. Lima jahitan di bagian luar dan tiga jahitan di bagian dalam. Luka pemain berusia 28 tahun itu terhitung dalam sehingga membuat darah juga mengucur deras dari pelipis kanannya akibat peristiwa itu.

Kondisi Hendro sempat membuat banyak pihak khawatir, termasuk pecinta sepak bola di tanah air. Puluhan akun media sosial memposting kejadian tabrakan dan perawatan Hendro, dan mendoakan sang pemain cepat pulih.

Hendro sudah memberikan klarifikasi mengenai keadaannya melalui akun Instagram miliknya. Dia mengunggah dalam Instagram Story dan mengatakan jika dirinya sudah baik-baik saja.

"Terima kasih semua atas doanya. Saya pribadi sudah baik. Maaf bila ada yang belum terbalas chat atau teleponnya. Dan ini hanya kecelakaan, jangan sampai saling menyalahkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kita semua kesehatan," tulis dia.

Kegagalan menang di Persipura, membuat Arema juga gagal memenuhi ambisinya untuk mencatatkan kemenangan perdana dalam lawatan ke Jayapura, yang dilalui selama 24 tahun terakhir tanpa kemenangan. Selain itu, peringkat arema juga rawan terlampaui tim di bawahnya seperti Sriwijaya FC dan Persebaya Surabaya.(ley/ary)

Editor : Ary
Uploader : hargodd
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU